All Stories

Sabtu, 27 September 2014

Perdebatan di dalam sidang paripurna pun menjadi tak terkendali, Jakarta, (25/9/14).
Jakarta - Jumat 26 September 2014 pukul 02.00 dini hari, sebuah keputusan mahapenting dikeluarkan DPR lewat RUU Pilkada: mengembalikan pemilihan kepala daerah -- gubernur, walikota, bupati -- ke para legislator. Mengambil hak itu dari rakyat yang sebelumnya bisa memilih langsung pemimpinnya.  

Oleh pendukungnya, keputusan tersebut dianggap bisa menghemat biaya pemilihan langsung dan meminimalisasi konflik. Bagi penentangnya, itu pengkhianatan demokrasi. Matinya kedaulatan rakyat. 

Tak hanya jadi perdebatan panas di Indonesia, keputusan kontroversial tersebut juga jadi sorotan di dunia.

Situs berita Amerika Serikat, CNN hari ini memuat artikel berjudul 'Indonesians lose right to directly elect governors, mayors' -- 'Rakyat Indonesia kehilangan hak untuk memilih langsung gubernur, walikota'. Juga The New York Times yang memuat artikel, "Parliament in Indonesia Rolls Back Election Rights". 

Pun dengan situs berita Inggris, Guardian, dengan artikel berjudul 'Indonesian parliament scraps direct elections, undermining Joko Widodo' 

"Pemungutan suara didukung oleh Prabowo, yang dikalahkan Joko Widodo dalam pemilihan presiden. Mengembalikan sistem pemilu kembali ke era Soeharto," demikian dimuat Guardian, Jumat (26/9/2014). 

Pemilihan walikota, bupati, dan gubernur secara langsung dimulai tahun 2005. Proses itu dilihat sebagai bagian penting  transisi demokrasi setelah kejatuhan rezim Soeharto. 

Situs berita Wall Street Journal, dalam artikelnya yang berjudul 'Indonesia Lawmakers Vote to End Direct Regional Elections'  memuat kalimat awal (lead) yang menohok. 

"Anggota dewan di negara demokrasi terbesar ketiga di dunia melakukan pemungutan suara, yang akibatnya justru membuat negaranya menjadi kurang demokratis." Ironis. 

Sementara, situs Bloomberg menyoroti salah satu dampak dibatalkannya pemilihan langsung. "Parlemen meloloskan RUU yang menghapus pemilihan langsung, yang mengakhiri sistem yang berlaku selama 1 dekade -- demokrasi daerah yang menghasilkan pemimpin seperti Joko Widodo.

"Sulit untuk tidak melihat RUU ini sebagai manuver politik -- untuk mengambil alih kembali hak dalam pemilu dari rakyat ke para pemimpin dan elit partai -- terkait kekalahan dalam pemilihan presiden," kata Andrew Thornley, direktur program pemilu The Asia Foundation seperti dimuatBloomberg. 

Media di Benua Asia juga tak ketinggalan menyoroti putusan tersebut. Yakni The Straits Times danThe Malay Online.

Situs Australia, Sydney Morning Herald menyoroti sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengumumkan pihaknya akan menggugat keputusan DPR tersebut dari  Willard Hotel di Washington DC, Amerika Serikat. 

"Meskipun partainya sendiri sebagian besar bertanggung jawab untuk meloloskannya," demikian dimuat Sydney Morning Herald. 

Sikap SBY yang adalah ketua umum Partai Demokrat juga mendapat kritik dari penasihat senior dari International Crisis Group (ICG), Sydney Jones. Ia menyoroti rencana penyelenggaraan Bali Democracy Forum yang akan digelar awal Oktober mendatang dengan 'pertunjukan' yang terjadi di dewan dini hari tadi. 

"Was your cherished Bali Democracy Forum all for show, Mr President? #ShameOnYouSBY" -- demikian ditulisnya dalam Twitter. 

Pemungutan suara terkait RUU Pilkada di DPR menghasilkan 135 suara memilih pilkada langsung dan 226 suara menghendaki pilkada melalui DPRD dari 361 anggota DPR yang bertahan hingga Jumat dini hari. (Yus)

'Matinya' Kedaulatan Rakyat Indonesia Disorot Dunia

Unknown   at  03.29  No comments

Perdebatan di dalam sidang paripurna pun menjadi tak terkendali, Jakarta, (25/9/14).
Jakarta - Jumat 26 September 2014 pukul 02.00 dini hari, sebuah keputusan mahapenting dikeluarkan DPR lewat RUU Pilkada: mengembalikan pemilihan kepala daerah -- gubernur, walikota, bupati -- ke para legislator. Mengambil hak itu dari rakyat yang sebelumnya bisa memilih langsung pemimpinnya.  

Oleh pendukungnya, keputusan tersebut dianggap bisa menghemat biaya pemilihan langsung dan meminimalisasi konflik. Bagi penentangnya, itu pengkhianatan demokrasi. Matinya kedaulatan rakyat. 

Tak hanya jadi perdebatan panas di Indonesia, keputusan kontroversial tersebut juga jadi sorotan di dunia.

Situs berita Amerika Serikat, CNN hari ini memuat artikel berjudul 'Indonesians lose right to directly elect governors, mayors' -- 'Rakyat Indonesia kehilangan hak untuk memilih langsung gubernur, walikota'. Juga The New York Times yang memuat artikel, "Parliament in Indonesia Rolls Back Election Rights". 

Pun dengan situs berita Inggris, Guardian, dengan artikel berjudul 'Indonesian parliament scraps direct elections, undermining Joko Widodo' 

"Pemungutan suara didukung oleh Prabowo, yang dikalahkan Joko Widodo dalam pemilihan presiden. Mengembalikan sistem pemilu kembali ke era Soeharto," demikian dimuat Guardian, Jumat (26/9/2014). 

Pemilihan walikota, bupati, dan gubernur secara langsung dimulai tahun 2005. Proses itu dilihat sebagai bagian penting  transisi demokrasi setelah kejatuhan rezim Soeharto. 

Situs berita Wall Street Journal, dalam artikelnya yang berjudul 'Indonesia Lawmakers Vote to End Direct Regional Elections'  memuat kalimat awal (lead) yang menohok. 

"Anggota dewan di negara demokrasi terbesar ketiga di dunia melakukan pemungutan suara, yang akibatnya justru membuat negaranya menjadi kurang demokratis." Ironis. 

Sementara, situs Bloomberg menyoroti salah satu dampak dibatalkannya pemilihan langsung. "Parlemen meloloskan RUU yang menghapus pemilihan langsung, yang mengakhiri sistem yang berlaku selama 1 dekade -- demokrasi daerah yang menghasilkan pemimpin seperti Joko Widodo.

"Sulit untuk tidak melihat RUU ini sebagai manuver politik -- untuk mengambil alih kembali hak dalam pemilu dari rakyat ke para pemimpin dan elit partai -- terkait kekalahan dalam pemilihan presiden," kata Andrew Thornley, direktur program pemilu The Asia Foundation seperti dimuatBloomberg. 

Media di Benua Asia juga tak ketinggalan menyoroti putusan tersebut. Yakni The Straits Times danThe Malay Online.

Situs Australia, Sydney Morning Herald menyoroti sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengumumkan pihaknya akan menggugat keputusan DPR tersebut dari  Willard Hotel di Washington DC, Amerika Serikat. 

"Meskipun partainya sendiri sebagian besar bertanggung jawab untuk meloloskannya," demikian dimuat Sydney Morning Herald. 

Sikap SBY yang adalah ketua umum Partai Demokrat juga mendapat kritik dari penasihat senior dari International Crisis Group (ICG), Sydney Jones. Ia menyoroti rencana penyelenggaraan Bali Democracy Forum yang akan digelar awal Oktober mendatang dengan 'pertunjukan' yang terjadi di dewan dini hari tadi. 

"Was your cherished Bali Democracy Forum all for show, Mr President? #ShameOnYouSBY" -- demikian ditulisnya dalam Twitter. 

Pemungutan suara terkait RUU Pilkada di DPR menghasilkan 135 suara memilih pilkada langsung dan 226 suara menghendaki pilkada melalui DPRD dari 361 anggota DPR yang bertahan hingga Jumat dini hari. (Yus)
Continue Reading→

Rabu, 24 September 2014

FPI demo Ahok. ©2014 merdeka.com/arie basuki
Massa Front Pembela Islam (FPI) yang berdemo menolak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) membubarkan diri dari depan Gedung DPRD. Mereka membubarkan diri 5 menit setelah mengeroyok pemotor wanita yang menunggangi Kawasaki Ninja RR.

Pantauan merdeka.com, Rabu (24/9) mereka membubarkan diri dengan menggunakan motor dan mobil. Mereka kembali ke markas mereka di Petamburan.

"Kita akan kembali menolak Ahok kalau dia sampai dilantik," ujar sang orator.

Mereka memulai aksi sekitar pukul 11.00 WIB dengan menyalakan kembang api dan mengakhiri dengan mengeroyok pemotor wanita. Arus lalu lintas masih tersendat akibat bubarnya massa FPI.

Sebelumnya, Front Pembela Islam (FPI) mendadak ricuh di tengah-tengah demonstrasi menolak Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi gubernur. Keributan terjadi ketika seorang pengendara motor melintas di tengah-tengah massa.

Pantauan merdeka.com, Rabu (24/9), massa yang tengah berkumpul mendengarkan orasi tiba-tiba merangsek mendekati seorang pengendara motor. Tak hanya itu, mereka lantas memukuli wanita yang mengendarai kendaraan roda doa tersebut dengan menggunakan bambu.

Meski dikepung massa, namun wanita yang mengendarai Kawasaki Ninja warna hijau tersebut berhasil tancap gas dan menjauhi amukan orang-orang di sekitarnya. Beberapa pria berpakaian serba putih berupaya mengejar, namun tidak berhasil.

Usai keroyok pemotor wanita, FPI bubarkan diri dari DPRD

Unknown   at  00.43  No comments

FPI demo Ahok. ©2014 merdeka.com/arie basuki
Massa Front Pembela Islam (FPI) yang berdemo menolak Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) membubarkan diri dari depan Gedung DPRD. Mereka membubarkan diri 5 menit setelah mengeroyok pemotor wanita yang menunggangi Kawasaki Ninja RR.

Pantauan merdeka.com, Rabu (24/9) mereka membubarkan diri dengan menggunakan motor dan mobil. Mereka kembali ke markas mereka di Petamburan.

"Kita akan kembali menolak Ahok kalau dia sampai dilantik," ujar sang orator.

Mereka memulai aksi sekitar pukul 11.00 WIB dengan menyalakan kembang api dan mengakhiri dengan mengeroyok pemotor wanita. Arus lalu lintas masih tersendat akibat bubarnya massa FPI.

Sebelumnya, Front Pembela Islam (FPI) mendadak ricuh di tengah-tengah demonstrasi menolak Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menjadi gubernur. Keributan terjadi ketika seorang pengendara motor melintas di tengah-tengah massa.

Pantauan merdeka.com, Rabu (24/9), massa yang tengah berkumpul mendengarkan orasi tiba-tiba merangsek mendekati seorang pengendara motor. Tak hanya itu, mereka lantas memukuli wanita yang mengendarai kendaraan roda doa tersebut dengan menggunakan bambu.

Meski dikepung massa, namun wanita yang mengendarai Kawasaki Ninja warna hijau tersebut berhasil tancap gas dan menjauhi amukan orang-orang di sekitarnya. Beberapa pria berpakaian serba putih berupaya mengejar, namun tidak berhasil.
Continue Reading→

Demo Mafia Migas. ©2013 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman
Direktur Utama PT Newmont Nusa Tenggara (NTT), Martiono menilai orang yang menghembuskan isu mafia migas di Indonesia, selama hanya berani ngomong tapi pernah langsung menunjuk orangnya.
Menurutnya, keberadaan mafia migas di Indonesia seperti kentut. Baunya tercium namun keberadaannya tidak pernah terdeteksi. "Mafia migas sampai sekarang tidak ada yang nunjuk hidungnya langsung, tapi baunya ada," kata Martiono dalam diskusi di FX, Senayan, Jakarta, Rabu (24/9).
Kondisi seperti ini diakui menyulitkan negara untuk dibersihkan dari keberadaan mafia. Selain itu, pemerintah juga seolah tutup mata dan tidak ada tindakan lebih lanjut untuk mengusut keberadaan mafia. "Yang aneh lagi mafia migas kok subur, dan pemerintah neng endi (di mana)," katanya.
Anggota Komisi Energi DPR, Bobby Adhityo Rizaldi mempertanyakan siapa sebenarnya mafia migas itu. "Kalau mafia migas di Indonesia siapa pelakunya, apakah pelaku industri. Ini apa yang salah, apa sistem salah atau pelaku yang hebat."
Dia menegaskan, yang aneh di Indonesia adalah pencurian minyak di Musi, Banyuasin. Padahal, pencurian tersebut, bisa ditelusuri ada atau tidak peran mafia. "Ini mafia atau bukan? Kita mau bilang ini pencurian atau tidak karena BUMN dan BPK sebut tidak ada kerugian," ungkapnya.

Bos Newmont: Mafia migas seperti kentut

Unknown   at  00.32  No comments

Demo Mafia Migas. ©2013 Merdeka.com/Muhammad Luthfi Rahman
Direktur Utama PT Newmont Nusa Tenggara (NTT), Martiono menilai orang yang menghembuskan isu mafia migas di Indonesia, selama hanya berani ngomong tapi pernah langsung menunjuk orangnya.
Menurutnya, keberadaan mafia migas di Indonesia seperti kentut. Baunya tercium namun keberadaannya tidak pernah terdeteksi. "Mafia migas sampai sekarang tidak ada yang nunjuk hidungnya langsung, tapi baunya ada," kata Martiono dalam diskusi di FX, Senayan, Jakarta, Rabu (24/9).
Kondisi seperti ini diakui menyulitkan negara untuk dibersihkan dari keberadaan mafia. Selain itu, pemerintah juga seolah tutup mata dan tidak ada tindakan lebih lanjut untuk mengusut keberadaan mafia. "Yang aneh lagi mafia migas kok subur, dan pemerintah neng endi (di mana)," katanya.
Anggota Komisi Energi DPR, Bobby Adhityo Rizaldi mempertanyakan siapa sebenarnya mafia migas itu. "Kalau mafia migas di Indonesia siapa pelakunya, apakah pelaku industri. Ini apa yang salah, apa sistem salah atau pelaku yang hebat."
Dia menegaskan, yang aneh di Indonesia adalah pencurian minyak di Musi, Banyuasin. Padahal, pencurian tersebut, bisa ditelusuri ada atau tidak peran mafia. "Ini mafia atau bukan? Kita mau bilang ini pencurian atau tidak karena BUMN dan BPK sebut tidak ada kerugian," ungkapnya.
Continue Reading→

Massa Front Pembela Islam (FPI) mendorong mobil mereka yang mogok saat
hendak menggelar aksi di Balai Kota DKI Jakarta. Rabu 24 September 2014
Ratusan anggota Front Pembela Islam (FPI) siap mendatangi gedung DPRD DKI Jakarta untuk menolak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok jadi Gubernur, Rabu 24 September 2014.

Ada pemandangan menarik saat mereka bersiap untuk menuju ke gedung dewan. Truk yang mengangkut sound system dan oratornya, Ustaz Jaffar Sodik, mogok.

"Allahu Akbar, Allahu Akbar, kita tolak Ahok jadi Gubernur Jakarta!" ujar Jaffar diiringi aksi sejumlah anggota FPI yang mendorong truk mogok itu.

Mobil pun melaju keluar dari halaman markas FPI yang terletak di Jalan Petamburan III ke Jalan Aipda KS Tubun, Jakarta Pusat.

"Mobilnya dipanasin dulu, susah di-starter, jarang diservis," ujar Heri, salah satu anggota FPI yang ikut mendorong.

Kini, truk yang akan digunakan untuk orasi itu telah tiba kembali di seberang Jalan Petamburan III, usai 'dipanaskan' memutari Jalan Aipda KS Tubun.

Mobil diparkirkan di pinggir jalan sambil Ustadz Jaffar Sodik kembali 'memanaskan' semangat para anggotanya yang akan melakukan long march ke Jalan Kebon Sirih.

Dalam aksi ini, FPI memang tidak mengerahkan kendaraan. Sebanyak 500 massa FPI akan melakukan long march untuk berunjuk rasa di depan Gedung DPRD DKI. (ita)

Mau Demo Ahok, Truk Anggota FPI Mogok

Unknown   at  00.30  No comments

Massa Front Pembela Islam (FPI) mendorong mobil mereka yang mogok saat
hendak menggelar aksi di Balai Kota DKI Jakarta. Rabu 24 September 2014
Ratusan anggota Front Pembela Islam (FPI) siap mendatangi gedung DPRD DKI Jakarta untuk menolak Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok jadi Gubernur, Rabu 24 September 2014.

Ada pemandangan menarik saat mereka bersiap untuk menuju ke gedung dewan. Truk yang mengangkut sound system dan oratornya, Ustaz Jaffar Sodik, mogok.

"Allahu Akbar, Allahu Akbar, kita tolak Ahok jadi Gubernur Jakarta!" ujar Jaffar diiringi aksi sejumlah anggota FPI yang mendorong truk mogok itu.

Mobil pun melaju keluar dari halaman markas FPI yang terletak di Jalan Petamburan III ke Jalan Aipda KS Tubun, Jakarta Pusat.

"Mobilnya dipanasin dulu, susah di-starter, jarang diservis," ujar Heri, salah satu anggota FPI yang ikut mendorong.

Kini, truk yang akan digunakan untuk orasi itu telah tiba kembali di seberang Jalan Petamburan III, usai 'dipanaskan' memutari Jalan Aipda KS Tubun.

Mobil diparkirkan di pinggir jalan sambil Ustadz Jaffar Sodik kembali 'memanaskan' semangat para anggotanya yang akan melakukan long march ke Jalan Kebon Sirih.

Dalam aksi ini, FPI memang tidak mengerahkan kendaraan. Sebanyak 500 massa FPI akan melakukan long march untuk berunjuk rasa di depan Gedung DPRD DKI. (ita)
Continue Reading→

Aksi massa FPI dan FBB di depan Balai Kota 
JAKARTA - Sejumlah organisasi massa yang terdiri dari Front Pembela Islam (FPI) dan Forum Betawi Bersatu (FBB) menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (24/9/2014).
Ratusan peserta aksi yang mayoritas mengenakan pakaian serba putih dan hijau ini menolak Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menjabat sebagai Gubernur DKI.
"Ahok kurang ajar. Ahok dia pernah katakan bahwasanya nanti di DKI pajak mau dinaikin. Kalau ada warga Jakarta yangg enggak mampu bayar pajak diusir dari Jakarta," ujar seorang orator.
Peserta aksi pun meminta Ahok kembali ke Belitung Timur, tempat kelahirannya. Menurut mereka, Ahok tidak pantas memimpin Jakarta yang mayoritas agama Islam.
"Emang Jakarta punya Bapak moyang lu. Lu lahir di Bangka Belitung. Kita iket dia, terus kita buang ke Belitung," teriak orator.

Pendemo: Buang Ahok ke Belitung

Unknown   at  00.22  No comments

Aksi massa FPI dan FBB di depan Balai Kota 
JAKARTA - Sejumlah organisasi massa yang terdiri dari Front Pembela Islam (FPI) dan Forum Betawi Bersatu (FBB) menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (24/9/2014).
Ratusan peserta aksi yang mayoritas mengenakan pakaian serba putih dan hijau ini menolak Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menjabat sebagai Gubernur DKI.
"Ahok kurang ajar. Ahok dia pernah katakan bahwasanya nanti di DKI pajak mau dinaikin. Kalau ada warga Jakarta yangg enggak mampu bayar pajak diusir dari Jakarta," ujar seorang orator.
Peserta aksi pun meminta Ahok kembali ke Belitung Timur, tempat kelahirannya. Menurut mereka, Ahok tidak pantas memimpin Jakarta yang mayoritas agama Islam.
"Emang Jakarta punya Bapak moyang lu. Lu lahir di Bangka Belitung. Kita iket dia, terus kita buang ke Belitung," teriak orator.
Continue Reading→

Senin, 22 September 2014

Megawati hadiri peletakan batu pertama kantor DPP PDIP
Ketua DPP PDIP Puan Maharani menyatakan sudah memiliki lebih dari 50 nama yang akan diajukan untuk masuk dalam kabinet Jokowi-JK. 50 Nama tersebut diambil setelah melihat rekam jejak dan kredibilitas masing-masing kader selama bergabung dengan partai berlambang kepala banteng tersebut.

"Oh banyak (nama), lebih dari 50 nama yang kemudian sudah kita list untuk kita liat track record dan kapabilitasnya nanti kalau memang mewakili PDI Perjuangan untuk masuk dalam kabinetnya Pak Jokowi," papar Puan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (22/9).

Namun, Puan mengaku harus melihat terlebih dahulu postur kabinet secara rinci yang akan digunakan Jokowi. Selain itu, PDIP juga masih menunggu usul dari Ketua Umum PDI Perjuangan,Megawati Soekarnoputri terkait nama-nama yang dianggap cocok mewakili PDIP di kabinet Jokowi-JK.

"Kita masih melihat kira-kira dari postur draft yang diusulkan Pak Jokowi itu kira-kira kita akan mempersiapkan nama-nama seperti apa yang ingin diusulkan Ibu Ketua Umum. Jadi memang sampai saat ini kita masih menggodok kira-kira nama apa yang akan diusulkan Ibu Ketua Umum," papar Puan.

Puan menegaskan, PDIP hanya mengusulkan nama-nama yang akan mewakili PDIP untuk duduk dalam kabinet Jokowi-JK, namun keputusan tetap akan berada di tangan Jokowi.

"Kami mendukung apa yang menjadi keputusan dan hak prerogatif presiden, hanya harapannya nama-nama yang nanti akan membantu Pak Jokowi-JK adalah nama-nama yang memang bersih, punya kapabilitas dan potensi dan tentu saja yang bisa membantu kerja kementerian," papar Puan.

PDIP ajukan 50 nama calon menteri kabinet Jokowi

Unknown   at  09.05  No comments

Megawati hadiri peletakan batu pertama kantor DPP PDIP
Ketua DPP PDIP Puan Maharani menyatakan sudah memiliki lebih dari 50 nama yang akan diajukan untuk masuk dalam kabinet Jokowi-JK. 50 Nama tersebut diambil setelah melihat rekam jejak dan kredibilitas masing-masing kader selama bergabung dengan partai berlambang kepala banteng tersebut.

"Oh banyak (nama), lebih dari 50 nama yang kemudian sudah kita list untuk kita liat track record dan kapabilitasnya nanti kalau memang mewakili PDI Perjuangan untuk masuk dalam kabinetnya Pak Jokowi," papar Puan di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (22/9).

Namun, Puan mengaku harus melihat terlebih dahulu postur kabinet secara rinci yang akan digunakan Jokowi. Selain itu, PDIP juga masih menunggu usul dari Ketua Umum PDI Perjuangan,Megawati Soekarnoputri terkait nama-nama yang dianggap cocok mewakili PDIP di kabinet Jokowi-JK.

"Kita masih melihat kira-kira dari postur draft yang diusulkan Pak Jokowi itu kira-kira kita akan mempersiapkan nama-nama seperti apa yang ingin diusulkan Ibu Ketua Umum. Jadi memang sampai saat ini kita masih menggodok kira-kira nama apa yang akan diusulkan Ibu Ketua Umum," papar Puan.

Puan menegaskan, PDIP hanya mengusulkan nama-nama yang akan mewakili PDIP untuk duduk dalam kabinet Jokowi-JK, namun keputusan tetap akan berada di tangan Jokowi.

"Kami mendukung apa yang menjadi keputusan dan hak prerogatif presiden, hanya harapannya nama-nama yang nanti akan membantu Pak Jokowi-JK adalah nama-nama yang memang bersih, punya kapabilitas dan potensi dan tentu saja yang bisa membantu kerja kementerian," papar Puan.
Continue Reading→

ahok mundur dari gerindra. ©2014 merdeka.com/muhammad lutfhi rahman
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menanggapi santai soal rencana massa Front Pembela Islam (FPI) yang akan melakukan demo besar-besaran di depan Balai Kota Jakarta, Rabu (24/9). Agenda demo FPI adalah menolak Ahok menjadi gubernur DKI Jakarta.

"Izinnya bukan menyeruduk, cuma demo di depan. Itu saja izinnya," kata Ahok di Balai Kota Jakarta, Senin (22/9).

Ahok menilai penolakan FPI sah-sah saja. "Itu hak semua orang, biasa-biasa saja," ujar Ahok.

Dalam situs fpi.or.id, ormas Islam ini mengumumkan rencana aksi demo pada Rabu pekan ini. Mereka mengajak kepada seluruh umat Islam Jakarta, Habaib, kiai, Ormas Islam, Ormas Betawi, Pondok Pesantren, Majelis Ta'lim, mahasiswa, dan tokoh masyarakat untuk mengikuti aksi bersama FPI ke Gedung DPRD DKI Jl. Kebon Sirih Jakarta-Pusat.

Demo rencananya akan dilaksanakan pada pukul 09. 00 WIB. Sebelum mendatangi Gedung DPRD dan Balai Kota, massa berkumpul di Petamburan III, markas Front Pembela Islam (FPI), Jakarta.

Mereka mengeluarkan maklumat isinya; DPD FPI DKI Jakarta menolak Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta, DPD FPI DKI Jakarta menyerukan agar Kemendagri dan DPRD DKI Jakarta tidak melantik Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta, dan DPD FPI DKI Jakarta menyerukan pemilihan Gubernur baru melalui DPRD DKI Jakarta atau referendum rakyat Jakarta untuk menolak Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Ahok siap hadapi demo besar-besaran FPI di Balai Kota

Unknown   at  09.04  No comments

ahok mundur dari gerindra. ©2014 merdeka.com/muhammad lutfhi rahman
Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menanggapi santai soal rencana massa Front Pembela Islam (FPI) yang akan melakukan demo besar-besaran di depan Balai Kota Jakarta, Rabu (24/9). Agenda demo FPI adalah menolak Ahok menjadi gubernur DKI Jakarta.

"Izinnya bukan menyeruduk, cuma demo di depan. Itu saja izinnya," kata Ahok di Balai Kota Jakarta, Senin (22/9).

Ahok menilai penolakan FPI sah-sah saja. "Itu hak semua orang, biasa-biasa saja," ujar Ahok.

Dalam situs fpi.or.id, ormas Islam ini mengumumkan rencana aksi demo pada Rabu pekan ini. Mereka mengajak kepada seluruh umat Islam Jakarta, Habaib, kiai, Ormas Islam, Ormas Betawi, Pondok Pesantren, Majelis Ta'lim, mahasiswa, dan tokoh masyarakat untuk mengikuti aksi bersama FPI ke Gedung DPRD DKI Jl. Kebon Sirih Jakarta-Pusat.

Demo rencananya akan dilaksanakan pada pukul 09. 00 WIB. Sebelum mendatangi Gedung DPRD dan Balai Kota, massa berkumpul di Petamburan III, markas Front Pembela Islam (FPI), Jakarta.

Mereka mengeluarkan maklumat isinya; DPD FPI DKI Jakarta menolak Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta, DPD FPI DKI Jakarta menyerukan agar Kemendagri dan DPRD DKI Jakarta tidak melantik Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta, dan DPD FPI DKI Jakarta menyerukan pemilihan Gubernur baru melalui DPRD DKI Jakarta atau referendum rakyat Jakarta untuk menolak Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta.
Continue Reading→

Discussion

Archive

Gadgets

Diberdayakan oleh Blogger.

Advertise Here

DAERAH

DAERAH

POLITIK

POLITIK

PERISTIWA

PERISTIWA

KESEHATAN

Health

About Us

PHOTOGRAPHY

PHOTOGRAPHY

SPORTS

SPORTS

Text Widget

© 2013 JABAR NEWS. WP Theme-junkie converted by Bloggertheme9
Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.