All Stories

Kamis, 15 Desember 2016

Tiga pahlawan lingkungan di Sumatera Utara (Sumut) mengembalikan berbagai penghargaan yang mereka peroleh sebagai bentruk protes kerusakan lingkungan di Danau Toba. Termasuk yang dikembalikan itu dua penghargaan Kalpataru dari Presiden RI.

Mereka yang mengembalikan penghargaan itu, masing-masing Marandus Sirait, Hasoloan Manik, dan Wimar Simanjorang. Pengembalian dilakukan dalam bentuk aksi bersama yang dilakukan di Taman Beringin, Jalan Sudirman, Medan, Jumat (2/8/2013).

Penghargaan yang dikembalikan itu antara lain dua Kalpataru, yang diperoleh Marandus Sirait untuk kategori Perintis Lingkungan pada tahun 2005 dan yang diperoleh Hasoloan Manik selaku Ketua Lembaga Peduli Lingkungan Hidup Indonesia (Pilihi) dalam kategori penyelamat lingkungan pada tahun 2010.

Sementara Wilmar E Simanjorang mengembalikan Danau Toba Award yang diterimanya pada tahun 2011 dari Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho dalam selaku Ketua Badan Pelaksana Badan Koordinasi Pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba.
Selain itu ada berbagai piagam dan penghargaan lain yang dikembalikan ketiganya, termasuk penghargaan Wana Lestari yang diterima Simanjorang dari Menteri Lingkungan Hidup Zulkifli Hasan pada tahun 2011.

Marandus Sirait menyatakan pemulangan pernghargaan ini merupakan bentuk keprihatinan mereka karena tidak adanya upaya pemerintah mengatasi kerusakan lingkungan di sekitar Danau Toba. Hutan yang dirusak semakin lebar, dan sehingga mengancam kelestarian danau itu dan mengancam keberadaan masyarakat di sekitarnya.

"Kerusakan itu terus terjadi sampai saat ini, dan pemerintah tidak melakukan apapun untuk mengatasinya," kata Sirait.

Semua penghargaan itu akan dikembalikan kepada pemberinya masing-masing. Penghargaan dari Gubernur Sumut dikembalikan hari ini juga ke Kantor Gubernur, sementara penghargaan dari Menteri dan Presiden akan diantarkan langsung ke Jakarta.

"Jika pemerintah tetap tidak berbuat apa-apa, maka 13 penerima Kalpataru asal Sumut, juga berencana mengembalikan penghargaan itu kepada pemerintah," kata Sirait.

sumber: http://news.detik.com/read/2013/08/02/112643/2322444/10/protes-kerusakan-danau-toba-3-pahlawan-lingkungan-kembalikan-kalpataru

Protes Kerusakan Danau Toba, 3 Pahlawan Lingkungan Kembalikan Kalpataru

Unknown   at  23.52  No comments

Tiga pahlawan lingkungan di Sumatera Utara (Sumut) mengembalikan berbagai penghargaan yang mereka peroleh sebagai bentruk protes kerusakan lingkungan di Danau Toba. Termasuk yang dikembalikan itu dua penghargaan Kalpataru dari Presiden RI.

Mereka yang mengembalikan penghargaan itu, masing-masing Marandus Sirait, Hasoloan Manik, dan Wimar Simanjorang. Pengembalian dilakukan dalam bentuk aksi bersama yang dilakukan di Taman Beringin, Jalan Sudirman, Medan, Jumat (2/8/2013).

Penghargaan yang dikembalikan itu antara lain dua Kalpataru, yang diperoleh Marandus Sirait untuk kategori Perintis Lingkungan pada tahun 2005 dan yang diperoleh Hasoloan Manik selaku Ketua Lembaga Peduli Lingkungan Hidup Indonesia (Pilihi) dalam kategori penyelamat lingkungan pada tahun 2010.

Sementara Wilmar E Simanjorang mengembalikan Danau Toba Award yang diterimanya pada tahun 2011 dari Gubernur Sumut Gatot Pujo Nugroho dalam selaku Ketua Badan Pelaksana Badan Koordinasi Pengelolaan Ekosistem Kawasan Danau Toba.
Selain itu ada berbagai piagam dan penghargaan lain yang dikembalikan ketiganya, termasuk penghargaan Wana Lestari yang diterima Simanjorang dari Menteri Lingkungan Hidup Zulkifli Hasan pada tahun 2011.

Marandus Sirait menyatakan pemulangan pernghargaan ini merupakan bentuk keprihatinan mereka karena tidak adanya upaya pemerintah mengatasi kerusakan lingkungan di sekitar Danau Toba. Hutan yang dirusak semakin lebar, dan sehingga mengancam kelestarian danau itu dan mengancam keberadaan masyarakat di sekitarnya.

"Kerusakan itu terus terjadi sampai saat ini, dan pemerintah tidak melakukan apapun untuk mengatasinya," kata Sirait.

Semua penghargaan itu akan dikembalikan kepada pemberinya masing-masing. Penghargaan dari Gubernur Sumut dikembalikan hari ini juga ke Kantor Gubernur, sementara penghargaan dari Menteri dan Presiden akan diantarkan langsung ke Jakarta.

"Jika pemerintah tetap tidak berbuat apa-apa, maka 13 penerima Kalpataru asal Sumut, juga berencana mengembalikan penghargaan itu kepada pemerintah," kata Sirait.

sumber: http://news.detik.com/read/2013/08/02/112643/2322444/10/protes-kerusakan-danau-toba-3-pahlawan-lingkungan-kembalikan-kalpataru
Continue Reading→

Perancang busana Merdi Sihombing kembali mengingatkan bahwa Indonesia kaya akan budaya. Selain batik, Merdi akan memamerkan kain tradisional yang kini menjadi kebanggaan Tanah Air, seperti tenun, songket, ulos dan lainnya.
Hal itu dituangkannya lewat sebuah karya atas nama leluhur “Travel in Cloth, Partonun Ulos” yang digelar di Galeri Nasional Jakarta, mulai 19 Juli-16 Agustus 2013.
Pameran ini menampilkan revitalisasi 40 kain ulos dengan ciri khas, filosofi dan nilai tradisi yang terjaga dengan pewarnaan alam alami.
Merdi membaginya lewat kain tekstil untuk fashion dan tekstil modern yang di-printing dan disesuaikan konsep aslinya melalui modifikasi motif-motif tua dan tradisional.
Ia ingin menunjukkan keanekaragaman Batak lewat kain tenun. Selain kain, ada seni patung seperti Sigale-gale, ukiran, parsanggul nan ganjang (sanggul nan tinggi), dan lainnya yang sudah hampir punah dan sulit ditemukan.
“Ini pameran ulos episode pertama saya sebagai Batak yang berkolaborasi dengan seniman. Kenapa hampir punah, karena ada tanggapan sebagian orang yang menganggap benda-benda kuno mengandung pemujaan setan dan harus dimusnahkan. Padahal sebenarnya tidak. Ini merupakan seni budaya warisan leluhur yang seharusnya dijaga kelestariannya,” ungkap Merdi.
Ia berharap lewat pameran tersebut dapat membawa Indonesia ke kancah yang lebih luas lagi. Apalagi Merdi tergolong dasainer yang suka menabrak-nabrakan rambu agar menghasilkan karya unik dengan mengangkat komunitas industri kreatif.
Ulos yang dikenakan masyarakat Batak termasuk yang kurang dikenal masyarakat luas. Oleh karena itu, jebolan Seni Rupa jurusan Kriya Tekstil IKJ ini menggunakan pendekatan lain mengenalkan ulos.

Filosofi
Sadar ulos harus dapat memenuhi selera masyarakat tanpa meninggalkan filosofi, Merdi mengolah ulos ke dalam warna-warna baru, dan benang yang lebih lembut.
Beragam ulos di Sumatra Utara, seolah dikembalikan Merdi dengan gaya masa kini tanpa meninggalkan filosofi dan ciri khasnya. Merdi mengolah ulos ke dalam warna-warna baru berbahan pewarna alam.
Modifikasi komposisi motif ulos Merdi menjadi lebih menarik dengan pengganti manik alam, seperti penggunaan kristal Swarovski ataupun mutiara.
“Karya-karya kita bisa diperhitungkan dengan membuat suatu produk yang dilirik dunia yang dibungkus dengan kreativitas. Alam dijaga dengan eko produknya. Produk ini yang perlu dipertahankan. Saya terpacu melakukan sebuah riset. Kerja dengan para komunitas ini yang harus dipertahankan pemerintah,” tutup Merdi. [H-15]

sumber: http://www.beritasatu.com/gaya-hidup/127056-merdi-sihombing-pamerkan-tenun-ulos.html

PARTUNON ULOS : Merdi Sihombing Pamerkan Tenun Ulos

Unknown   at  23.47  No comments

Perancang busana Merdi Sihombing kembali mengingatkan bahwa Indonesia kaya akan budaya. Selain batik, Merdi akan memamerkan kain tradisional yang kini menjadi kebanggaan Tanah Air, seperti tenun, songket, ulos dan lainnya.
Hal itu dituangkannya lewat sebuah karya atas nama leluhur “Travel in Cloth, Partonun Ulos” yang digelar di Galeri Nasional Jakarta, mulai 19 Juli-16 Agustus 2013.
Pameran ini menampilkan revitalisasi 40 kain ulos dengan ciri khas, filosofi dan nilai tradisi yang terjaga dengan pewarnaan alam alami.
Merdi membaginya lewat kain tekstil untuk fashion dan tekstil modern yang di-printing dan disesuaikan konsep aslinya melalui modifikasi motif-motif tua dan tradisional.
Ia ingin menunjukkan keanekaragaman Batak lewat kain tenun. Selain kain, ada seni patung seperti Sigale-gale, ukiran, parsanggul nan ganjang (sanggul nan tinggi), dan lainnya yang sudah hampir punah dan sulit ditemukan.
“Ini pameran ulos episode pertama saya sebagai Batak yang berkolaborasi dengan seniman. Kenapa hampir punah, karena ada tanggapan sebagian orang yang menganggap benda-benda kuno mengandung pemujaan setan dan harus dimusnahkan. Padahal sebenarnya tidak. Ini merupakan seni budaya warisan leluhur yang seharusnya dijaga kelestariannya,” ungkap Merdi.
Ia berharap lewat pameran tersebut dapat membawa Indonesia ke kancah yang lebih luas lagi. Apalagi Merdi tergolong dasainer yang suka menabrak-nabrakan rambu agar menghasilkan karya unik dengan mengangkat komunitas industri kreatif.
Ulos yang dikenakan masyarakat Batak termasuk yang kurang dikenal masyarakat luas. Oleh karena itu, jebolan Seni Rupa jurusan Kriya Tekstil IKJ ini menggunakan pendekatan lain mengenalkan ulos.

Filosofi
Sadar ulos harus dapat memenuhi selera masyarakat tanpa meninggalkan filosofi, Merdi mengolah ulos ke dalam warna-warna baru, dan benang yang lebih lembut.
Beragam ulos di Sumatra Utara, seolah dikembalikan Merdi dengan gaya masa kini tanpa meninggalkan filosofi dan ciri khasnya. Merdi mengolah ulos ke dalam warna-warna baru berbahan pewarna alam.
Modifikasi komposisi motif ulos Merdi menjadi lebih menarik dengan pengganti manik alam, seperti penggunaan kristal Swarovski ataupun mutiara.
“Karya-karya kita bisa diperhitungkan dengan membuat suatu produk yang dilirik dunia yang dibungkus dengan kreativitas. Alam dijaga dengan eko produknya. Produk ini yang perlu dipertahankan. Saya terpacu melakukan sebuah riset. Kerja dengan para komunitas ini yang harus dipertahankan pemerintah,” tutup Merdi. [H-15]

sumber: http://www.beritasatu.com/gaya-hidup/127056-merdi-sihombing-pamerkan-tenun-ulos.html
Continue Reading→

Penenun tradisional ulos Batak di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara mengharapkan bantuan pemerintah untukmengembangkan usaha dan memasarkan hasil tenunan mereka.
"Belum pernah ada bantuan dari pemerintah, selama ini kami bekerja secara mandiri," ungkap Rita Simbolon, 29, warga Kelurahan Pondok SayurKecamatan Siantar Martoba, di tempat tenunan yang berukuran 3x4 meter di depan rumahnya, Minggu (21/7).

Begitu pun pemilik tenunan yang memulai usahanya tahun 2005 ini mengaku hati-hati jika ada orang yang menawarkan bantuan modal karena pernah dikunjungi tetapi tidak pernah datang lagi. "Entah untuk apa di foto-foto dan ditanyai usahaku," tutur Rita.

Rita yang sewaktu gadis bekerja sebagai penenun ini mengaku membuka usaha untuk membantu nafkah keluarga sambil mengisi waktu luang mengurusi rumahtangga tanpa kepikiran telah melestarikan budaya daerah.

Dalam sehari kerja, mulai pukul 07.00 WIB sampai 18.00 WIB, usaha Rita menghasilkan enam helai ulos yang dipasarkan ke Parluasan, Pasar DwikoraPematangsiantar dengan harga Rp30 ribu per helai dan pekerja mendapat Rp10 ribu per helai.

Sering juga masyarakat langsung datang ke tempat saya untuk memesan ulos. Biasanya orang perantau yang ingin bawa oleh-oleh. "Di ulos itu minta pakaitulisan sesuai pesanan," kata Rita yang berharap pemerintah kota memperhatikan keberadaan penenun ulos yang belum terdata. (Ant)



sumber: http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/07/21/6/169791/Penenun-Ulos-Batak-Harapkan-Perhatian-Pemerintah, 21 Juli 2013

Penenun Ulos Batak Harapkan Perhatian Pemerintah

Unknown   at  23.47  No comments

Penenun tradisional ulos Batak di Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara mengharapkan bantuan pemerintah untukmengembangkan usaha dan memasarkan hasil tenunan mereka.
"Belum pernah ada bantuan dari pemerintah, selama ini kami bekerja secara mandiri," ungkap Rita Simbolon, 29, warga Kelurahan Pondok SayurKecamatan Siantar Martoba, di tempat tenunan yang berukuran 3x4 meter di depan rumahnya, Minggu (21/7).

Begitu pun pemilik tenunan yang memulai usahanya tahun 2005 ini mengaku hati-hati jika ada orang yang menawarkan bantuan modal karena pernah dikunjungi tetapi tidak pernah datang lagi. "Entah untuk apa di foto-foto dan ditanyai usahaku," tutur Rita.

Rita yang sewaktu gadis bekerja sebagai penenun ini mengaku membuka usaha untuk membantu nafkah keluarga sambil mengisi waktu luang mengurusi rumahtangga tanpa kepikiran telah melestarikan budaya daerah.

Dalam sehari kerja, mulai pukul 07.00 WIB sampai 18.00 WIB, usaha Rita menghasilkan enam helai ulos yang dipasarkan ke Parluasan, Pasar DwikoraPematangsiantar dengan harga Rp30 ribu per helai dan pekerja mendapat Rp10 ribu per helai.

Sering juga masyarakat langsung datang ke tempat saya untuk memesan ulos. Biasanya orang perantau yang ingin bawa oleh-oleh. "Di ulos itu minta pakaitulisan sesuai pesanan," kata Rita yang berharap pemerintah kota memperhatikan keberadaan penenun ulos yang belum terdata. (Ant)



sumber: http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/07/21/6/169791/Penenun-Ulos-Batak-Harapkan-Perhatian-Pemerintah, 21 Juli 2013
Continue Reading→

Jakarta - Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah akan meluncurkan 11 desain baru uang rupiah secara serentak pada Senin 19 Desember 2016.

Seperti dikutip dari Twitter resmi BI, Jumat (16/12/2016), ada 12 pahlawan nasional yang wajahnya akan muncul pada desain baru uang rupiah.

Dua di antaranya adalah wajah lama yang selama ini terpampang di uang desain lama. Sementara sisanya adalah wajah baru.

Penasaran seperti apa desain uang rupiah yang baru? Berikut 12 pahlawan nasional yang wajahnya akan muncul di desain baru rupiah dirilis di Twitter resmi BI.


Dokumen Bank Indonesia
Sumber : detik.com

Diluncurkan 19 Desember 2016, Ini Gambar Pahlawan di Desain Baru Rupiah

Unknown   at  22.51  No comments

Jakarta - Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah akan meluncurkan 11 desain baru uang rupiah secara serentak pada Senin 19 Desember 2016.

Seperti dikutip dari Twitter resmi BI, Jumat (16/12/2016), ada 12 pahlawan nasional yang wajahnya akan muncul pada desain baru uang rupiah.

Dua di antaranya adalah wajah lama yang selama ini terpampang di uang desain lama. Sementara sisanya adalah wajah baru.

Penasaran seperti apa desain uang rupiah yang baru? Berikut 12 pahlawan nasional yang wajahnya akan muncul di desain baru rupiah dirilis di Twitter resmi BI.


Dokumen Bank Indonesia
Sumber : detik.com

Continue Reading→

Rabu, 07 Desember 2016

Doa sebelum pembubaran KKR Natal oleh Bpk. Stephen Tong
Pembela Ahli Sunnah (PAS) dipimpin Ketua umumnya membubarkan kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Natal Bandung 2016 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Jalan Taman Sari, Selasa (6/12) sore. Sejumlah orang dipimpin oleh Ustadz Muhammad Ro'in merangsek masuk kedalam ruang utama dan membubarkan jemaat yang sedang menyanyikan kidung di atas panggung.

Hari ni setelah membuka akun Facebook saya kembali merenung melihat beberapa komentar yang ada di beberapa postingan saya. Saya sangat kagum buat kaum Nasrani khususnya, banyak kejadian yang terjadi di akhir pekan ini. Seperti pengeboman di Medan sampai ke Samarinda yang mengorbankan anak kecil begitu juga dengan pembubaran KKR Natal.

Melihat respon yang selalu mengutamakan KASIH bukan permusuhan, serta banyaknya sesama umat Nasrani mengajak agak tidak terprovokasi dan tetap menjaga kebhinekaan dan terus menyuarakan semangat pemersatu karna KITA INDONESIA. Begitu juga dengan postingan saya sebelumnya menanggapi Aksi Penolakan KKR Natal di situs Wordpress saya https://jhonmejerpurba.wordpress.com/2016/12/06/penolakan-elemen-ormas-islam-jabar-memininta-kegiatan-kkr-natal-di-sabuga-dipindahkan/

Brberapa komentar yang terdapat di postingan saya antara lain mengatakan :
Kaban Tuah Fernando Purba Masyarakat sudah mulai kecanduan agama,, sudah menyembah agama, bukan Tuhan!

Resmi Saragih Yski Susah bang kalo ngomong sama iq jongkok hahha yg ga perlu d permasalahan aja jadi masalah..

Riko Suhendra Turnip Tetaplah bersyukur buat kejadian ini. Jgan pernah menghakimi. Jgan pernah mengutuk. Karna kita kristen yang slalu di ajarkan kasih

Sosok pendeta yang juga saya kenal dengan baik Pdt. Erik Barus berkomentar : Jangan arogan. Yesus sendiri mengatakan ketika dia mau disalibkan. Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Tuhan ada rencana lain, ujar Jenson Saragih menambahkan.

Ira Purba Sidagambir Bukan kah untuk jadi pemenang yang sesungguhnya itu memang harus menghadapi banyak tantangan dan rintangan? Jadi mungkin inilah tantangan dan rintangan yg kita harus lewati untuk menjadi pemenang sejati. Ambil nilai positifnya aja

Ony Letare Dumasty Saragih Damai sejahtera tuk kita semua..ummat ciptaan Tuhan,Yesus beserta murid2Nya juga menerima cercaan,dihina dan di fitnah,ampuni semua hamba2 mu Tuhan.,,Amin

Luis Delapara Purba berkomentar hanya memakai hastag  #bandungintoleran

Saya menjawab dengan lantang : Semoga tidak!

Mengingat kota Bandung  di Tahun 2015 mendapatkan penganugrahan sebagai Percontohan Kota Ramah Hak Asasi Manusia (HAM) di dunia oleh PBB dan salah satu yayasan internasional yang bergerak dalam hak asasi manusia.

Meskipun sedikit kecewa melihat postingan lewat akun Instagram, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mencoba menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan koordinasi soal itu, dan menulis: "Kegiatan dilanjut saja. Hak beragama Anda dilindungi negara."

Namun tidak semanis perkataan beliau, acara KKR itu akhirnya dibubarkan sebelum waktunya. Lagi-lagi beliau berkomentar di media mengatakan : Ridwan meminta maaf. "Saya minta maaf, secara fisik saya tidak bisa di semua lokasi peristiwa."

Diakhiri dengan komentar guru saya di SMAN 1 Raya Nelli Mariati Saragih Sumbayak menuliskan biarlah Tuhan yang bekerja atas semua kejadian ini...Tuhan pasti adil se adil2nya... Terimakasih Bu dan saya langsung mengaminkanya.

Menutup tulisan ini selaku ketua cabang Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun di Kota Bandung menghimbau Mari Berdoa untuk Toleransi Indonesia.


Berikut kronologi kejadian yang dimuat dalam salah satu situs :
http://www.beritasatu.com/nasional/403272-kronologi-pembubaran-kebaktian-kkr-natal-pdt-stephen-tong-di-bandung.html

Detail Penulis : Jhon Mejer Purba
Undergraduate Student of Institut Teknologi Bandung
Senator HIMAFI ITB di Kongres KM ITB 2015/2016
Ketua Cabang di HIMAPSI (Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun) Bandung
BADAN PENGURUS CABANG M.B 2015-2016 di GMKI Cabang Bandung

HIMAPSI : Berdoa Untuk Toleransi Indonesia

Unknown   at  05.50  No comments

Doa sebelum pembubaran KKR Natal oleh Bpk. Stephen Tong
Pembela Ahli Sunnah (PAS) dipimpin Ketua umumnya membubarkan kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) Natal Bandung 2016 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Jalan Taman Sari, Selasa (6/12) sore. Sejumlah orang dipimpin oleh Ustadz Muhammad Ro'in merangsek masuk kedalam ruang utama dan membubarkan jemaat yang sedang menyanyikan kidung di atas panggung.

Hari ni setelah membuka akun Facebook saya kembali merenung melihat beberapa komentar yang ada di beberapa postingan saya. Saya sangat kagum buat kaum Nasrani khususnya, banyak kejadian yang terjadi di akhir pekan ini. Seperti pengeboman di Medan sampai ke Samarinda yang mengorbankan anak kecil begitu juga dengan pembubaran KKR Natal.

Melihat respon yang selalu mengutamakan KASIH bukan permusuhan, serta banyaknya sesama umat Nasrani mengajak agak tidak terprovokasi dan tetap menjaga kebhinekaan dan terus menyuarakan semangat pemersatu karna KITA INDONESIA. Begitu juga dengan postingan saya sebelumnya menanggapi Aksi Penolakan KKR Natal di situs Wordpress saya https://jhonmejerpurba.wordpress.com/2016/12/06/penolakan-elemen-ormas-islam-jabar-memininta-kegiatan-kkr-natal-di-sabuga-dipindahkan/

Brberapa komentar yang terdapat di postingan saya antara lain mengatakan :
Kaban Tuah Fernando Purba Masyarakat sudah mulai kecanduan agama,, sudah menyembah agama, bukan Tuhan!

Resmi Saragih Yski Susah bang kalo ngomong sama iq jongkok hahha yg ga perlu d permasalahan aja jadi masalah..

Riko Suhendra Turnip Tetaplah bersyukur buat kejadian ini. Jgan pernah menghakimi. Jgan pernah mengutuk. Karna kita kristen yang slalu di ajarkan kasih

Sosok pendeta yang juga saya kenal dengan baik Pdt. Erik Barus berkomentar : Jangan arogan. Yesus sendiri mengatakan ketika dia mau disalibkan. Ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat. Tuhan ada rencana lain, ujar Jenson Saragih menambahkan.

Ira Purba Sidagambir Bukan kah untuk jadi pemenang yang sesungguhnya itu memang harus menghadapi banyak tantangan dan rintangan? Jadi mungkin inilah tantangan dan rintangan yg kita harus lewati untuk menjadi pemenang sejati. Ambil nilai positifnya aja

Ony Letare Dumasty Saragih Damai sejahtera tuk kita semua..ummat ciptaan Tuhan,Yesus beserta murid2Nya juga menerima cercaan,dihina dan di fitnah,ampuni semua hamba2 mu Tuhan.,,Amin

Luis Delapara Purba berkomentar hanya memakai hastag  #bandungintoleran

Saya menjawab dengan lantang : Semoga tidak!

Mengingat kota Bandung  di Tahun 2015 mendapatkan penganugrahan sebagai Percontohan Kota Ramah Hak Asasi Manusia (HAM) di dunia oleh PBB dan salah satu yayasan internasional yang bergerak dalam hak asasi manusia.

Meskipun sedikit kecewa melihat postingan lewat akun Instagram, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mencoba menjelaskan bahwa pihaknya sudah melakukan koordinasi soal itu, dan menulis: "Kegiatan dilanjut saja. Hak beragama Anda dilindungi negara."

Namun tidak semanis perkataan beliau, acara KKR itu akhirnya dibubarkan sebelum waktunya. Lagi-lagi beliau berkomentar di media mengatakan : Ridwan meminta maaf. "Saya minta maaf, secara fisik saya tidak bisa di semua lokasi peristiwa."

Diakhiri dengan komentar guru saya di SMAN 1 Raya Nelli Mariati Saragih Sumbayak menuliskan biarlah Tuhan yang bekerja atas semua kejadian ini...Tuhan pasti adil se adil2nya... Terimakasih Bu dan saya langsung mengaminkanya.

Menutup tulisan ini selaku ketua cabang Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun di Kota Bandung menghimbau Mari Berdoa untuk Toleransi Indonesia.


Berikut kronologi kejadian yang dimuat dalam salah satu situs :
http://www.beritasatu.com/nasional/403272-kronologi-pembubaran-kebaktian-kkr-natal-pdt-stephen-tong-di-bandung.html

Detail Penulis : Jhon Mejer Purba
Undergraduate Student of Institut Teknologi Bandung
Senator HIMAFI ITB di Kongres KM ITB 2015/2016
Ketua Cabang di HIMAPSI (Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun) Bandung
BADAN PENGURUS CABANG M.B 2015-2016 di GMKI Cabang Bandung
Continue Reading→

Foto Aksi Penolakan KKR Natal di Jl.Tamansari, Kota Bandung
KKR NATAL BANDUNG 2016 Akan diadakan KKR Natal Bandung 2016 pada hari Selasa, 6 Desember 2016, pk. 18.30, dipimpin oleh Pdt.Dr.Stephen Tong di Sabuga – ITB. Info:022-86060699/085105071880 begitulah informasi yang terdapat di website Gereja Reformed Injili Indonesia Bandung (http://griibandung.org/seminar-kkr/kkr-natal-bandung-2016/). 

Sejumlah elemen Ormas Islam dan lembaga dakwah di Jawa Barat yang tergabung dalam Pembela Ahlu Sunnah (PAS) mengadakan “aksi penolakan kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR)” Selasa, (6/12/2016) di Jl.Tamansari Kota Bandung. Aksi ini meminta kegiatan KKR oleh kaum Nasrani di Gedung Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) di pindahkan ke gereja. 

Mengacu SPB 2 Menteri pada pasal 1 point 3 yang menyebutkan bahwa rumah ibadat adalah bangunan yang memiliki ciri-ciri tertentu yang khusus dipergunakan untuk beribadat bagi para pemeluk masing-masing agama secara permanen, tidak termasuk tempat ibadat keluarga. Ketua PAS M.Roinul Balad menjelaskan bahwa permintaan pemindahan tempat acara tersebut ke gereja karena tidak sesuai antara tujuan acara yakni ibadat dengan fungsi gedung yang hendak digunakan. Beliau juga menambahkan “KKR adalah rangkaian ibadat. Sementara ibadat harus dilaksanakan di tempat atau rumah ibadat,” paparnya kepada Islamic News Agency (INA) Senin malam (5/12/2106) 

Mencoba membandingkan pelaksanan salat pada “Aksi Bela Islam III” Jumat (2/12/2016) yang diadakan di sepanjang jalan raya di sekitaran Lapangan Monas. Apakah jalan raya merupakan rumah ibadat yang dimaksut mengacu SPB 2 Menteri ? Mari kita masing-masing setiap orang menjawab di dalam diri kita. 

Melihat keadaan Indonesia sekarang ini memasuki babak transisi demokrasi, dini hari tadi Balige, Tobasamosir, Sumatera Utara Geger Penangkapan 10 Orang Terduga Teroris Menyebar di sosial media bahkan akhir-akhir ini Ideologi dan NKRI menjadi pertaruhan. Pergolakan dinamika hukum bergeser menjadi isu politik yang dinilai semakin tidak sehat. Mari bersama menjaga ketertiban serta masyarakat nasrani  diharapkan dapat lebih menahan diri serta mampu cerdas dalam menyikapi aksi penolakan ini. Jangan sampai terprovakasi dengan menghubungkan kegiatan aksi yang mengatasnamakan masyarakat muslim jabar ini merupakan bentuk intoleransi kepada non-muslim. 

Bulan desember ini ada momen spesial yang sudah ditunggu-tunggu, inilah saat berbenah hati mempersiapkan diri menyambut Natal (dari bahasa Portugis yang berarti "kelahiran") adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Natal dirayakan dalam kebaktian malam pada tanggal 24 Desember; dan kebaktian pagi tanggal 25 Desember. Mari kita berdoa serta menghimbau personel polri, TNI, serta instansi lainya untuk meningkatkan pengamanan yang dilakukan guna mewujutkan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat dalam melaksanakan kegiatan Natal serta menyambut Tahun Baru, baik pada saat beribadah, bersilaturahim, berwisata maupun berbagai aktivitas lainnya.

Semoga dalam menanti datangnya natal, kita semua dapat melakukan renungan akan apa yang telah kita perbuat untuk Tuhan Yesus, apa yang telah kita berikan kepada Tuhan Yesus, apakah kita telah memuliakan namaNya dan apakah kita telah memiliki iman percaya yang teguh. Semua itu dapat kita jadikan renungan dalam menyambut Natal. 

Mari kita semua berpikir positif terhadap suatu masalah dengan tidak bermaksud menyudutkan satu pendapat. Kritik terhadap kebijakan, ketidaksesuaian pendapat dalam menyikapi suatu kegiatan menjadi hal yang wajar dan biasa, sepanjang caranya baik, baik untuk Indonesia, baik juga untuk rakyat. Satu dinamika yang mencerdaskan, baik dalam penegakan hukum, maupun politik, tentu niatnya adalah untuk koreksi agar lebih baik. Jangan sampai persoalan hukum ditunggangi oleh  kepentingan politik sekelompok orang yang beraliran keras yang lebih cenderung memaksakan diri. Tetapi marilah kita menyuarakan semangat persatuan dengan lantang meneriakan “Kita Indonesia”.  

Detail Penulis : Jhon Mejer Purba
Undergraduate Student of Institut Teknologi Bandung
Senator HIMAFI ITB di Kongres KM ITB 2015/2016
Ketua Cabang di HIMAPSI ( Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun ) Cabang Bandung
BADAN PENGURUS CABANG M.B 2015-2016 di GMKI Cabang Bandung

Ormas Meminta Kegiatan KKR Natal di Sabuga Dipindahkan

Unknown   at  05.43  No comments

Foto Aksi Penolakan KKR Natal di Jl.Tamansari, Kota Bandung
KKR NATAL BANDUNG 2016 Akan diadakan KKR Natal Bandung 2016 pada hari Selasa, 6 Desember 2016, pk. 18.30, dipimpin oleh Pdt.Dr.Stephen Tong di Sabuga – ITB. Info:022-86060699/085105071880 begitulah informasi yang terdapat di website Gereja Reformed Injili Indonesia Bandung (http://griibandung.org/seminar-kkr/kkr-natal-bandung-2016/). 

Sejumlah elemen Ormas Islam dan lembaga dakwah di Jawa Barat yang tergabung dalam Pembela Ahlu Sunnah (PAS) mengadakan “aksi penolakan kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR)” Selasa, (6/12/2016) di Jl.Tamansari Kota Bandung. Aksi ini meminta kegiatan KKR oleh kaum Nasrani di Gedung Sasana Budaya Ganesa (Sabuga) di pindahkan ke gereja. 

Mengacu SPB 2 Menteri pada pasal 1 point 3 yang menyebutkan bahwa rumah ibadat adalah bangunan yang memiliki ciri-ciri tertentu yang khusus dipergunakan untuk beribadat bagi para pemeluk masing-masing agama secara permanen, tidak termasuk tempat ibadat keluarga. Ketua PAS M.Roinul Balad menjelaskan bahwa permintaan pemindahan tempat acara tersebut ke gereja karena tidak sesuai antara tujuan acara yakni ibadat dengan fungsi gedung yang hendak digunakan. Beliau juga menambahkan “KKR adalah rangkaian ibadat. Sementara ibadat harus dilaksanakan di tempat atau rumah ibadat,” paparnya kepada Islamic News Agency (INA) Senin malam (5/12/2106) 

Mencoba membandingkan pelaksanan salat pada “Aksi Bela Islam III” Jumat (2/12/2016) yang diadakan di sepanjang jalan raya di sekitaran Lapangan Monas. Apakah jalan raya merupakan rumah ibadat yang dimaksut mengacu SPB 2 Menteri ? Mari kita masing-masing setiap orang menjawab di dalam diri kita. 

Melihat keadaan Indonesia sekarang ini memasuki babak transisi demokrasi, dini hari tadi Balige, Tobasamosir, Sumatera Utara Geger Penangkapan 10 Orang Terduga Teroris Menyebar di sosial media bahkan akhir-akhir ini Ideologi dan NKRI menjadi pertaruhan. Pergolakan dinamika hukum bergeser menjadi isu politik yang dinilai semakin tidak sehat. Mari bersama menjaga ketertiban serta masyarakat nasrani  diharapkan dapat lebih menahan diri serta mampu cerdas dalam menyikapi aksi penolakan ini. Jangan sampai terprovakasi dengan menghubungkan kegiatan aksi yang mengatasnamakan masyarakat muslim jabar ini merupakan bentuk intoleransi kepada non-muslim. 

Bulan desember ini ada momen spesial yang sudah ditunggu-tunggu, inilah saat berbenah hati mempersiapkan diri menyambut Natal (dari bahasa Portugis yang berarti "kelahiran") adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus. Natal dirayakan dalam kebaktian malam pada tanggal 24 Desember; dan kebaktian pagi tanggal 25 Desember. Mari kita berdoa serta menghimbau personel polri, TNI, serta instansi lainya untuk meningkatkan pengamanan yang dilakukan guna mewujutkan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat dalam melaksanakan kegiatan Natal serta menyambut Tahun Baru, baik pada saat beribadah, bersilaturahim, berwisata maupun berbagai aktivitas lainnya.

Semoga dalam menanti datangnya natal, kita semua dapat melakukan renungan akan apa yang telah kita perbuat untuk Tuhan Yesus, apa yang telah kita berikan kepada Tuhan Yesus, apakah kita telah memuliakan namaNya dan apakah kita telah memiliki iman percaya yang teguh. Semua itu dapat kita jadikan renungan dalam menyambut Natal. 

Mari kita semua berpikir positif terhadap suatu masalah dengan tidak bermaksud menyudutkan satu pendapat. Kritik terhadap kebijakan, ketidaksesuaian pendapat dalam menyikapi suatu kegiatan menjadi hal yang wajar dan biasa, sepanjang caranya baik, baik untuk Indonesia, baik juga untuk rakyat. Satu dinamika yang mencerdaskan, baik dalam penegakan hukum, maupun politik, tentu niatnya adalah untuk koreksi agar lebih baik. Jangan sampai persoalan hukum ditunggangi oleh  kepentingan politik sekelompok orang yang beraliran keras yang lebih cenderung memaksakan diri. Tetapi marilah kita menyuarakan semangat persatuan dengan lantang meneriakan “Kita Indonesia”.  

Detail Penulis : Jhon Mejer Purba
Undergraduate Student of Institut Teknologi Bandung
Senator HIMAFI ITB di Kongres KM ITB 2015/2016
Ketua Cabang di HIMAPSI ( Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun ) Cabang Bandung
BADAN PENGURUS CABANG M.B 2015-2016 di GMKI Cabang Bandung

Continue Reading→

Rabu, 30 Maret 2016

Purba secara etimologi bermakna timur, kata ini serumpun dengan kata "purwa" dalam bahasa Jawa. Kata ini berakar dari bahasa Sanskerta "purva". Pengaruh budaya India yang kental dengan corak Hindu-Buddha melalui bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa pada awal abad Masehi sangat besar peranannya dalam mewarnai kebudayaan nusantara. Pengaruh itu tentunya tidak terelakkan oleh suku Simalungun, akibat dari pengaruh yang berlangsung selama berabad-abad sehingga ditemukan cukup banyak budaya Simalungun yang bernuansa Hindu-Buddha.
Purba merupakan salah satu marga dari empat marga besar di Simalungun. Marga ini terbagi ke dalam beberapa cabang yaitu Tambak, Sidasuha, Sidadolog, Sidagambir, Sigumonrong, Silangit, Tambun Saribu, Tua, Tanjung, Pakpak, Siboro, Girsang, Tondang, Sihala, dan Manorsa. Penamaan Purba sebagai marga dari suatu kelompok masyarakat Simalungun dapat dideskripsikan bahwa nenek moyang mereka berasal dari arah timur pulau Sumatera. Leluhur awal marga Purba kemungkinan besar datang dari Siam ada dua lokasi yang diduga menjadi tempat berlabuh dan pintu masuknya ke Sumatera Timur, yaitu pesisir Serdang Bedagai dan Asahan sekarang. Batrlett (1952:633) menulis sebagaimana dikutip dari Arlin Dietrich (2003:13) bahwa nenek moyang orang Simalungun pada awalnya berkedudukan di pesisir pantai timur dan akibat desakan dari etnis Melayu yang datang dari Semenanjung Malaya kemudian mendirikan Kesultanan Melayu mereka lalu berpindah ke pedalaman hingga mencapai pantai Danau Toba dan berbaur dengan masyarakat setempat. Sampai sekarang penduduk Melayu di Serdang dan Deli masih banyak yang mengakui kalau nenek moyang mereka berawal dari suku Simalungun. Leluhur Purba yang pertama ini lalu mengidentifikasikan dirinya dengan sebutan orang yang berasal dari timur, dengan menggunakan bahasa Sanskerta "Purva", ia adalah seorang penganut Buddha. Ia diterima dengan baik oleh penduduk setempat dan diberikan keleluasaan untuk hidup bergaul bersama mereka. Si Purba kemudian menikahi salah seorang puteri dari kaum pribumi dan diberikan sebidang tanah untuk tempat tinggal.
Pada awalnya marga Purba tidak mengenal sub atau cabang marga seperti yang dikenal saat ini. Besar dugaan cabang-cabang yang ada sekarang merupakan hasil proses afiliasi dari para pendatang yang membaurkan diri dengan kelompok marga Purba awal. Artinya sebelum ada Tambak, Silangit, Sigumondrong, Sidasuha, Sidadolog, Sidagambir, Tanjung, Tambun Saribu, Tondang, Tua, Girsang, Pakpak, dan Siboro; kelompok masyarakat bermarga Purba itu telah ada. Jadi munculnya cabang tidak seiring dengan lahirnya induk marga, karena jauh sebelum adanya cabang, induk marga itu telah eksis di bumi Habonaron Do Bona. Terbentuknya cabang-cabang marga Purba baru terjadi pasca abad 11 masehi, pada masa sebelumnya belum dikenal adanya sub atau cabang marga. Sebagaimana penjelasan saya di atas bahwa terbentuknya cabang-cabang tersebut terjadi setelah adanya migrasi dari suku sekitar yaitu dari Pakpak dan Minangkabau. Artinya cabang-cabang marga Purba yg ada sekarang bukanlah keturunan langsung dari marga Purba melainkan pihak luar yang membaurkan diri atau berafiliasi ke dalam marga Purba agar dapat diterima menjadi bagian dari masyarakat pribumi yaitu masyarakat Hataran (Batak Timur), dimana pada masa itu belum dikenal istilah Simalungun. Bila dirunut pada masa itu telah terjadi 2 gelombang migrasi bangsa-bangsa dan suku yang masuk ke tanah Simalungun, yang pertama adalah komunitas pembentuk marga Purba yang datang dari Siam sebelum tahun 500 Masehi, yang kedua migrasi dari suku sekitar yang kemudian membentuk cabang-cabang marga Purba. Dalam buku Sari Sejarah Serdang edisi I karya Tengku Luckman Sinar yang dikutip dari tulisan Wikinson dalam buku Papers on Malay Subjects dijelaskan bahwa pada sekitar tahun 1377 Masehi telah terjadi gelombang eksodus masyarakat Minangkabau ke daerah pesisir Sumatera Timur setelah Singapura dihancurkan oleh Majapahit, kemudian diikuti gelombang kedua yg terjadi pada tahun 1611 Masehi, pada masa ini perpindahan mereka sampai ke semenanjung Malaya. Barangkali pada gelombang kedua inilah Pangulu Tambak Bawang leluhur awal Purba Tambak berkelana dari Pagaruyung ke tanah Simalungun.
Bila dirunut ke belakang sedikitnya ada 4 kelompok besar cabang marga Purba yg berbeda keturunan, yaitu:
1. Silangit,
2. Sigumondrong, Tambak, Sidasuha, Sidadolog, dan Sidagambir,
3. Tanjung, Tua, Tondang dan Tambun Saribu,
4. Siboro, Girsang, Pakpak, dan Sihala.
Menurut cerita lisan di Simalungun, leluhur Purba Silangit awalnya berdiam di sekitar Dolog Tinggi Raja. Akibat banjir besar melanda, daerah mereka jadi porak poranda yang mengakibatkan keturunannya menyebar ke sejumlah daerah seperti Gunung Mariah, Sinombah, Dolog Silou, Silou Kahean, dan Raya. Dari Gunung Mariah keturunannya kemudian banyak yang hijrah ke tanah Karo dan beralih menjadi Tarigan Silangit. Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa Purba Sigulang Batu lahir dari salah seorang keturunan Purba Silangit yang hijrah ke Humbang. Dan desa Silangit yang ada di Toba Samosir juga disinyalir ada kaitannya dengan Purba Silangit. Sementara untuk leluhur Purba Tambak datang dari Pagaruyung, ia mengembara melalui daerah Natal terus ke Singkil lalu ke Dairi, ia kemudian meneruskan perjalanan ke Simalungun. Ia mendirikan kampung pertama bernama Tambak Bawang, di mana di tempat itu ia membuat kolam di sebuah rawa-rawa (Simalungun: bawang/rawang). Ia adalah seorang pemburu yang ulung dan pemancing yang handal, hal inilah menginspirasi lahirnya simbol Purba Tambak yaitu "ultop" dan "bubu". Masyarakat disekitarnya pun berdatangan meramaikan tempat itu, mereka lalu mengangkatnya jadi Pangulu Tambak Bawang. Puteranya yang bernama Tuan Jigou lalu meneruskan jabatan ayahnya sebagai pangulu. Tuan Jigou ini melahirkan seorang putera bernama Tuan Sindar Lela. Puteranya inilah yang bertemu dengan Puteri Hijau di aliran Sungai Petani daerah Serbajadi sekarang dekat sebuah pohon tualang. Melalui bantuan Puteri Hijau, Tuan Sindar Lela berhasil mendapat tempat di lingkungan kerajaan Silou, ia pun diangkat jadi Raja Goraha Silou (Panglima perang Kerajaan Silou). Tuan Sindar Lela memiliki 2 orang putera, yang sulung bernama Tuan Toriti Purba Tambak Tualang dan yang bungsu bernama Tuan Timbangan Raja Purba Tambak Bawang. Anak yang sulung pindah ke Silou Buntu dan mendirikan Partuanon di tempat itu, sementara yang bungsu pindah ke Silou Dunia dan juga menjadi penguasa di tempat itu. Tuan Timbangan Raja inilah yang menikah dengan puteri Bunga Ncolei dari Kesain Jambur Lige Barus Jahe dan melahirkan 2 orang putera yang sulung bergelar Raja Rubun yang menjadi leluhur raja-raja Dolog Silou dari kelompok Purba Tambak Lombang dan yang bungsu diyakini sebagai leluhur asal Purba Sidasuha yang bergelar Tuan Suha Bolag. Kedua puteranya ini setelah beranjak dewasa berselisih, yang bungsu mengalah lalu bertualang sampai ke sekitar Tiga Runggu sekarang, di tempat itu ia mendirikan kampung Suha Bolag. Ialah yang menjadi tonggak awal berdirinya Kerajaan Panei. Pada generasi berikutnya, salah seorang keturunan Purba Sidasuha yang berdiam di sebuah pegunungan menamakan dirinya Purba Sidadolog, kelompok marga ini mendiami daerah Sinaman dan menjadi salah seorang keturunannya diangkat sebagai pembesar di Kerajaan Panei. Dari Purba Sidadolog ini muncul lagi Purba Sidagambir yang membelah diri akibat terjadinya perselisihan, Sidagambir sehari-hari bekerja sebagai penanam gambir, ia pindah ke tempat lain dan mendirikan kampung Rajaihuta, kemudian keturunannya mendirikan kampung baru bernama Dolog Huluan.
Daftar Raja Dolog Silou:
1. Raja Rubun
2. Tuan Bedar Maralam
3. Tuan Rajomin
4. Tuan Moraijou
5. Tuan Taring
6. Tuan Lurni
7. Tuan Tanjarmahei
8. Tuan Ragaim
9. Tuan Bandar Alam
Daftar Raja Panei:
1. Tuan Suha Bolag
2. Raja Panei II
3. Raja Panei III
4. Raja Panei IV
5. Raja Panei V
6. Raja Panei VI
7. Raja Panei VII
8. Raja Panei VIII
9. Tuan Sarmalam
10. Tuan Sarhalapa
11. Tuan Jintama
12. Tuan Jontama
13. Tuan Jadiammat
14. Tuan Bosar Sumalam
15. Tuan Marga Bulan (Raja Muda)
Purba Sigumondrong berasal dari Lokkung, keturunannya kemudian menyebar ke Cingkes, Marubun, Togur, dan Raya, Simalungun. Marga ini merupakan keturunan dari Purba Tambak yang lahir dari boru Simarmata. Keturunannya yang pindah ke tanah Karo beralih menjadi Tarigan Gerneng. Adapun leluhur Purba Tondang berawal dari kampung Huta Tanoh di Kecamatan Purba, marga ini merupakan saudara dari Purba Tambun Saribu. Sebagian keturunannya meyakini leluhur mereka berasal dari Purba Parhorbo di Humbang. Keturunannya yang pindah ke tanah Karo beralih menjadi Tarigan Tendang. Saudaranya, Purba Tambun Saribu berasal dari Harangan Silombu dan Binangara di Kecamatan Purba, keturunannya yang pindah ke tanah Karo beralih menjadi Tarigan Tambun. Tua. Cabang marga Purba lainnya yaitu Purba Tua, marga ini adalah pendiri kampung Purba Tua yang berada di Kecamatan Silimakuta, sebagian meyakini marga ini merupakan saudara dari Purba Tanjung yang mendiami daerah Sipinggan, simpang Haranggaol. Keturunannya yang pindah ke tanah Karo beralih menjadi Tarigan Tua dan banyak bermukim di Juhar. marga inilah yang menerima kehadiran salah seorang keturunan marga Cibero di Juhar yang datang dari Tungtung Batu yang kemudian beralih menjadi Tarigan Sibero. Kampung asal Purba Tanjung berada di Sipinggan dekat simpang Haranggaol, sebagian keturunannya meyakini marga mereka lahir dari Purba Pakpak. Sedang pendapat lain mengatakan leluhur mereka adalah Purba Tambak, di mana salah seorang keturunannya pergi berdiam di sebuah tanjung di pinggiran Danau Toba.
Adapun marga Girsang, dari hasil investigasi penulis beberapa waktu yang lalu, di mana penulis menginterview salah seorang pengetua adat Pakpak marga Cibero. Ia menjelaskan bahwa Girsang adalah keturunan dari marga Cibero. Leluhur marga ini tinggal di sebuah bukit di kampung Lehu, pemukimannya itu diberikan oleh Raja Mandida Manik karena menikahi puterinya. Salah seorang keturunan si Girsang ada yang memiliki keahlian meramu obat sehingga dikenal juga dengan sebutan Datu Parulas dan menyumpit burung sehingga digelari juga dengan Pangultop. Adapun nama leluhur pertama marga Girsang yg datang langsung dari Pakpak menurutnya adalah 2 orang bersaudara yaitu Girsang Girsang dan Sondar Girsang, mereka ini keturunan ke 11 dari Raja Ghaib, leluhur pertama marga Cibero. Keduanya melakukan perburuan terhadap seekor burung, karena mengejar burung tersebut salah seorang di antara keduanya sampai ke Simalungun dan memasuki kampung Naga Mariah tanah ulayat marga Sinaga. Pada masa itu Tuan Naga Mariah tengah mendapat ancaman dari musuh yang datang dari Kerajaan Siantar, berkat bantuan si Girsang musuh dari Siantar dapat diatasi. Atas jasanya, Tuan Naga Mariah kemudian menikahkannya dengan puterinya dan menyerahkan tampuk kekuasaan padanya. Adapun penduduk asli tempat itu yaitu marga Sinaga, setelah kekuasaan beralih ke tangan si Girsang, mereka akhirnya banyak yang mengungsi ke Batu Karang dan menjadi marga Peranginangin Bangun. Di tempat itu, Si Girsang kemudian mendirikan kampung Naga Saribu sebagai ibukota Kerajaan Silima Huta dengan menggabungkan lima kampung yaitu Rakutbesi, Dolog Panribuan, Saribu Jandi, Mardingding, dan Nagamariah. Marga ini terbagi lagi menjadi Girsang Jabu Bolon, Girsang Na Godang, Girsang Parhara, Girsang Rumah Parik, dan Girsang Rumah Bolon. Sebagian keturunannya pindah ke tanah Karo menjadi Tarigan Gersang, kampung Sinaman di Kecamatan Tiga Panah merupakan salah satu kampung yang didirikan keturunan Girsang yang pindah ke tanah Karo. Adapun keturunan Purba Silangit ada juga yang menggabungkan diri dengan marga ini yang disebut dengan Girsang Silangit.
Peristiwa yang sama juga dialami salah seorang keturunan marga Cibero yang bergelar Pangultopultop, karena memburu seekor burung dari Tungtung Batu Kecamatan Silima Punggapungga membawa dirinya sampai ke Simalungun dan memasuki wilayah kekuasaan Tuan Simalobong salah satu partuanon dari Kerajaan Panei. Karena kepiawaiannya ia berhasil merebut hati rakyat Simalobong saat terjadi musim paceklik sehingga rakyat pun dengan sukarela memanggilnya raja. Hal ini menimbulkan kemarahan dan kecemburuan Tuan Simalobong, karena ia merasa ialah satu-satunya yang berhak menyandang titel tersebut. Akibatnya Pangultopultop berurusan dengan pihak istana dan berhadapan langsung dengan Tuan Simalobong, peristiwa ini berujung dengan adu sumpah (marbija) antara keduanya yang akhirnya berhasil dimenangkan oleh Pangultopultop. Kepemimpinan kemudian jatuh ke tangannya, di bekas wilayah kekuasaan Tuan Simalobong, ia lalu mendirikan Kerajaan Purba dan mengidentifikasi dirinya dengan sebutan Purba Pakpak. Pengetua adat marga Cibero tersebut dengan tegas mengatakan bahwa Pangultopultop, sang pendiri Kerajaan Purba dan nenek moyang pertama Purba Pakpak juga bermarga Cibero. Nama asli Pangultopultop menurutnya adalah Gorga, ia memiliki seorang saudara yg bernama Buah atau Suksuk Langit, saudaranya inilah yg pindah ke Juhar dan menjadi Tarigan Sibero. Mereka ini merupakan generasi ke 20 dari Raja Ghaib, generasi awal marga Cibero. Kalau merujuk pada pendapat beliau, artinya lebih dahulu si Girsang merantau ke Simalungun dibanding si Parultop, ada selisih 9 generasi antara Girsang dan Parultop, leluhur Purba Pakpak. Di antara keturunan Purba Pakpak ada yang membelah diri dan menyebut marganya dengan Purba Sihala dan mendiami daerah Purba Hinalang, keturunannyalah yang pindah ke tanah Karo menjadi Tarigan Purba atau Tarigan Cikala yang banyak ditemukan di daerah Cingkes dan Tanjung Purba, Kecamatan Dolog Silou.
Daftar Raja Purba:
1. Tuan Pangultop Ultop (1624-1648)
2. Tuan Ranjiman (1648-1669)
3. Tuan Nanggaraja (1670-1692)
4. Tuan Batiran (1692-1717)
5. Tuan Bakkaraja (1718-1738)
6. Tuan Baringin (1738-1769)
7. Tuan Bona Batu (1769-1780)
8. Tuan Raja Ulan (1781-1769)
9. Tuan Atian (1800-1825)
10. Tuan Horma Bulan (1826-1856)
11.Tuan Raondop (1856-1886)
12.Tuan Rahalim (1886-1921)
13. Tuan Karel Tanjung (1921-1931)
14. Tuan Mogang (1933-1947)
Mengenai komunitas marga Purba yang berada di Humbang, secara hukum adat berbeda dengan Purba Simalungun dan juga Purba Karo. Namun mereka kerap mengklaim Purba Simalungun adalah keturunan mereka, namun hal ini sangat bertentangan bila merujuk pada jumlah populasi dan generasi dari kedua marga. Populasi komunitas Purba Simalungun jauh lebih banyak dibanding mereka, demikian juga keberadaan Purba Simalungun sudah lebih dahulu eksis sehingga jumlah generasinya jauh lebih banyak dibanding Purba Humbang. Hal ini diperkuat dari informasi yang diperoleh oleh penulis dari Ketua Bidang Adat Punguan Marga Manurung yang berdomisli di Kota Pematang Siantar melalui rekannya yang mengatakan pada penulis bahwa Tuan Sorba Dijae alias Datu Pejel pernah mengambil istri boru Purba dari Simalungun saat ia berimigrasi dari Pangururan ke Sibisa. Saat masih di Pangururan ia sudah memiliki seorang istri bernama Siboru Anting Sabungan yang melahirkan 2 orang anak yaitu Raja Mardopang dan Raja Mangatur. Dari Raja Mardopang lahir marga Sirait, Sitorus, dan Butarbutar. Sedang dari Raja Mangatur lahir marga Manurung. Sebagaimana diketahui Tuan Sorba Dijae adalah putera dari Tuan Sorimangaraja hasil pernikahannya dengan Siboru Biding Laut yang lebih populer disebut dengan Nai Rasaon. Tuan Sorba Dijulu (Tuan Nabolon) dan Tuan Sorba Dibanua merupakan saudara seayah Tuan Sorba Dijae lain ibu. Ketiganya adalah generasi keempat dari Si Raja Batak. Sementara untuk Purba yang lahir dari Simamora adalah generasi keempat dari Tuan Sorba Dibanua dan generasi ketujuh dari Si Raja Batak. Tuan Sorba Dibanua memiliki delapan orang anak, salah satu diantaranya bernama Raja Sumba, dari Raja Sumba inilah lahir Simamora dan Sihombing kemudian dari Simamora lahir marga Purba yang saat ini banyak ditemui di wilayah Humbang.
Dari uraian ini dapat diketahui bahwa jauh sebelum lahirnya marga Purba di Humbang sudah ada komunitas marga Purba di Simalungun dibuktikan dengan adanya salah seorang isteri Tuan Sorba Dijae berasal dari kelompok Purba Simalungun. Dari kisah ini membuktikan bahwa di tanah Simalungun sejak lama sudah berkembang suatu peradaban besar yang dilakoni oleh para nenek moyang orang Simalungun.

SEJARAH LAHIRNYA MARGA PURBA SIMALUNGUN

Unknown   at  00.12  No comments

Purba secara etimologi bermakna timur, kata ini serumpun dengan kata "purwa" dalam bahasa Jawa. Kata ini berakar dari bahasa Sanskerta "purva". Pengaruh budaya India yang kental dengan corak Hindu-Buddha melalui bahasa Sanskerta dan huruf Pallawa pada awal abad Masehi sangat besar peranannya dalam mewarnai kebudayaan nusantara. Pengaruh itu tentunya tidak terelakkan oleh suku Simalungun, akibat dari pengaruh yang berlangsung selama berabad-abad sehingga ditemukan cukup banyak budaya Simalungun yang bernuansa Hindu-Buddha.
Purba merupakan salah satu marga dari empat marga besar di Simalungun. Marga ini terbagi ke dalam beberapa cabang yaitu Tambak, Sidasuha, Sidadolog, Sidagambir, Sigumonrong, Silangit, Tambun Saribu, Tua, Tanjung, Pakpak, Siboro, Girsang, Tondang, Sihala, dan Manorsa. Penamaan Purba sebagai marga dari suatu kelompok masyarakat Simalungun dapat dideskripsikan bahwa nenek moyang mereka berasal dari arah timur pulau Sumatera. Leluhur awal marga Purba kemungkinan besar datang dari Siam ada dua lokasi yang diduga menjadi tempat berlabuh dan pintu masuknya ke Sumatera Timur, yaitu pesisir Serdang Bedagai dan Asahan sekarang. Batrlett (1952:633) menulis sebagaimana dikutip dari Arlin Dietrich (2003:13) bahwa nenek moyang orang Simalungun pada awalnya berkedudukan di pesisir pantai timur dan akibat desakan dari etnis Melayu yang datang dari Semenanjung Malaya kemudian mendirikan Kesultanan Melayu mereka lalu berpindah ke pedalaman hingga mencapai pantai Danau Toba dan berbaur dengan masyarakat setempat. Sampai sekarang penduduk Melayu di Serdang dan Deli masih banyak yang mengakui kalau nenek moyang mereka berawal dari suku Simalungun. Leluhur Purba yang pertama ini lalu mengidentifikasikan dirinya dengan sebutan orang yang berasal dari timur, dengan menggunakan bahasa Sanskerta "Purva", ia adalah seorang penganut Buddha. Ia diterima dengan baik oleh penduduk setempat dan diberikan keleluasaan untuk hidup bergaul bersama mereka. Si Purba kemudian menikahi salah seorang puteri dari kaum pribumi dan diberikan sebidang tanah untuk tempat tinggal.
Pada awalnya marga Purba tidak mengenal sub atau cabang marga seperti yang dikenal saat ini. Besar dugaan cabang-cabang yang ada sekarang merupakan hasil proses afiliasi dari para pendatang yang membaurkan diri dengan kelompok marga Purba awal. Artinya sebelum ada Tambak, Silangit, Sigumondrong, Sidasuha, Sidadolog, Sidagambir, Tanjung, Tambun Saribu, Tondang, Tua, Girsang, Pakpak, dan Siboro; kelompok masyarakat bermarga Purba itu telah ada. Jadi munculnya cabang tidak seiring dengan lahirnya induk marga, karena jauh sebelum adanya cabang, induk marga itu telah eksis di bumi Habonaron Do Bona. Terbentuknya cabang-cabang marga Purba baru terjadi pasca abad 11 masehi, pada masa sebelumnya belum dikenal adanya sub atau cabang marga. Sebagaimana penjelasan saya di atas bahwa terbentuknya cabang-cabang tersebut terjadi setelah adanya migrasi dari suku sekitar yaitu dari Pakpak dan Minangkabau. Artinya cabang-cabang marga Purba yg ada sekarang bukanlah keturunan langsung dari marga Purba melainkan pihak luar yang membaurkan diri atau berafiliasi ke dalam marga Purba agar dapat diterima menjadi bagian dari masyarakat pribumi yaitu masyarakat Hataran (Batak Timur), dimana pada masa itu belum dikenal istilah Simalungun. Bila dirunut pada masa itu telah terjadi 2 gelombang migrasi bangsa-bangsa dan suku yang masuk ke tanah Simalungun, yang pertama adalah komunitas pembentuk marga Purba yang datang dari Siam sebelum tahun 500 Masehi, yang kedua migrasi dari suku sekitar yang kemudian membentuk cabang-cabang marga Purba. Dalam buku Sari Sejarah Serdang edisi I karya Tengku Luckman Sinar yang dikutip dari tulisan Wikinson dalam buku Papers on Malay Subjects dijelaskan bahwa pada sekitar tahun 1377 Masehi telah terjadi gelombang eksodus masyarakat Minangkabau ke daerah pesisir Sumatera Timur setelah Singapura dihancurkan oleh Majapahit, kemudian diikuti gelombang kedua yg terjadi pada tahun 1611 Masehi, pada masa ini perpindahan mereka sampai ke semenanjung Malaya. Barangkali pada gelombang kedua inilah Pangulu Tambak Bawang leluhur awal Purba Tambak berkelana dari Pagaruyung ke tanah Simalungun.
Bila dirunut ke belakang sedikitnya ada 4 kelompok besar cabang marga Purba yg berbeda keturunan, yaitu:
1. Silangit,
2. Sigumondrong, Tambak, Sidasuha, Sidadolog, dan Sidagambir,
3. Tanjung, Tua, Tondang dan Tambun Saribu,
4. Siboro, Girsang, Pakpak, dan Sihala.
Menurut cerita lisan di Simalungun, leluhur Purba Silangit awalnya berdiam di sekitar Dolog Tinggi Raja. Akibat banjir besar melanda, daerah mereka jadi porak poranda yang mengakibatkan keturunannya menyebar ke sejumlah daerah seperti Gunung Mariah, Sinombah, Dolog Silou, Silou Kahean, dan Raya. Dari Gunung Mariah keturunannya kemudian banyak yang hijrah ke tanah Karo dan beralih menjadi Tarigan Silangit. Ada sebuah pendapat yang mengatakan bahwa Purba Sigulang Batu lahir dari salah seorang keturunan Purba Silangit yang hijrah ke Humbang. Dan desa Silangit yang ada di Toba Samosir juga disinyalir ada kaitannya dengan Purba Silangit. Sementara untuk leluhur Purba Tambak datang dari Pagaruyung, ia mengembara melalui daerah Natal terus ke Singkil lalu ke Dairi, ia kemudian meneruskan perjalanan ke Simalungun. Ia mendirikan kampung pertama bernama Tambak Bawang, di mana di tempat itu ia membuat kolam di sebuah rawa-rawa (Simalungun: bawang/rawang). Ia adalah seorang pemburu yang ulung dan pemancing yang handal, hal inilah menginspirasi lahirnya simbol Purba Tambak yaitu "ultop" dan "bubu". Masyarakat disekitarnya pun berdatangan meramaikan tempat itu, mereka lalu mengangkatnya jadi Pangulu Tambak Bawang. Puteranya yang bernama Tuan Jigou lalu meneruskan jabatan ayahnya sebagai pangulu. Tuan Jigou ini melahirkan seorang putera bernama Tuan Sindar Lela. Puteranya inilah yang bertemu dengan Puteri Hijau di aliran Sungai Petani daerah Serbajadi sekarang dekat sebuah pohon tualang. Melalui bantuan Puteri Hijau, Tuan Sindar Lela berhasil mendapat tempat di lingkungan kerajaan Silou, ia pun diangkat jadi Raja Goraha Silou (Panglima perang Kerajaan Silou). Tuan Sindar Lela memiliki 2 orang putera, yang sulung bernama Tuan Toriti Purba Tambak Tualang dan yang bungsu bernama Tuan Timbangan Raja Purba Tambak Bawang. Anak yang sulung pindah ke Silou Buntu dan mendirikan Partuanon di tempat itu, sementara yang bungsu pindah ke Silou Dunia dan juga menjadi penguasa di tempat itu. Tuan Timbangan Raja inilah yang menikah dengan puteri Bunga Ncolei dari Kesain Jambur Lige Barus Jahe dan melahirkan 2 orang putera yang sulung bergelar Raja Rubun yang menjadi leluhur raja-raja Dolog Silou dari kelompok Purba Tambak Lombang dan yang bungsu diyakini sebagai leluhur asal Purba Sidasuha yang bergelar Tuan Suha Bolag. Kedua puteranya ini setelah beranjak dewasa berselisih, yang bungsu mengalah lalu bertualang sampai ke sekitar Tiga Runggu sekarang, di tempat itu ia mendirikan kampung Suha Bolag. Ialah yang menjadi tonggak awal berdirinya Kerajaan Panei. Pada generasi berikutnya, salah seorang keturunan Purba Sidasuha yang berdiam di sebuah pegunungan menamakan dirinya Purba Sidadolog, kelompok marga ini mendiami daerah Sinaman dan menjadi salah seorang keturunannya diangkat sebagai pembesar di Kerajaan Panei. Dari Purba Sidadolog ini muncul lagi Purba Sidagambir yang membelah diri akibat terjadinya perselisihan, Sidagambir sehari-hari bekerja sebagai penanam gambir, ia pindah ke tempat lain dan mendirikan kampung Rajaihuta, kemudian keturunannya mendirikan kampung baru bernama Dolog Huluan.
Daftar Raja Dolog Silou:
1. Raja Rubun
2. Tuan Bedar Maralam
3. Tuan Rajomin
4. Tuan Moraijou
5. Tuan Taring
6. Tuan Lurni
7. Tuan Tanjarmahei
8. Tuan Ragaim
9. Tuan Bandar Alam
Daftar Raja Panei:
1. Tuan Suha Bolag
2. Raja Panei II
3. Raja Panei III
4. Raja Panei IV
5. Raja Panei V
6. Raja Panei VI
7. Raja Panei VII
8. Raja Panei VIII
9. Tuan Sarmalam
10. Tuan Sarhalapa
11. Tuan Jintama
12. Tuan Jontama
13. Tuan Jadiammat
14. Tuan Bosar Sumalam
15. Tuan Marga Bulan (Raja Muda)
Purba Sigumondrong berasal dari Lokkung, keturunannya kemudian menyebar ke Cingkes, Marubun, Togur, dan Raya, Simalungun. Marga ini merupakan keturunan dari Purba Tambak yang lahir dari boru Simarmata. Keturunannya yang pindah ke tanah Karo beralih menjadi Tarigan Gerneng. Adapun leluhur Purba Tondang berawal dari kampung Huta Tanoh di Kecamatan Purba, marga ini merupakan saudara dari Purba Tambun Saribu. Sebagian keturunannya meyakini leluhur mereka berasal dari Purba Parhorbo di Humbang. Keturunannya yang pindah ke tanah Karo beralih menjadi Tarigan Tendang. Saudaranya, Purba Tambun Saribu berasal dari Harangan Silombu dan Binangara di Kecamatan Purba, keturunannya yang pindah ke tanah Karo beralih menjadi Tarigan Tambun. Tua. Cabang marga Purba lainnya yaitu Purba Tua, marga ini adalah pendiri kampung Purba Tua yang berada di Kecamatan Silimakuta, sebagian meyakini marga ini merupakan saudara dari Purba Tanjung yang mendiami daerah Sipinggan, simpang Haranggaol. Keturunannya yang pindah ke tanah Karo beralih menjadi Tarigan Tua dan banyak bermukim di Juhar. marga inilah yang menerima kehadiran salah seorang keturunan marga Cibero di Juhar yang datang dari Tungtung Batu yang kemudian beralih menjadi Tarigan Sibero. Kampung asal Purba Tanjung berada di Sipinggan dekat simpang Haranggaol, sebagian keturunannya meyakini marga mereka lahir dari Purba Pakpak. Sedang pendapat lain mengatakan leluhur mereka adalah Purba Tambak, di mana salah seorang keturunannya pergi berdiam di sebuah tanjung di pinggiran Danau Toba.
Adapun marga Girsang, dari hasil investigasi penulis beberapa waktu yang lalu, di mana penulis menginterview salah seorang pengetua adat Pakpak marga Cibero. Ia menjelaskan bahwa Girsang adalah keturunan dari marga Cibero. Leluhur marga ini tinggal di sebuah bukit di kampung Lehu, pemukimannya itu diberikan oleh Raja Mandida Manik karena menikahi puterinya. Salah seorang keturunan si Girsang ada yang memiliki keahlian meramu obat sehingga dikenal juga dengan sebutan Datu Parulas dan menyumpit burung sehingga digelari juga dengan Pangultop. Adapun nama leluhur pertama marga Girsang yg datang langsung dari Pakpak menurutnya adalah 2 orang bersaudara yaitu Girsang Girsang dan Sondar Girsang, mereka ini keturunan ke 11 dari Raja Ghaib, leluhur pertama marga Cibero. Keduanya melakukan perburuan terhadap seekor burung, karena mengejar burung tersebut salah seorang di antara keduanya sampai ke Simalungun dan memasuki kampung Naga Mariah tanah ulayat marga Sinaga. Pada masa itu Tuan Naga Mariah tengah mendapat ancaman dari musuh yang datang dari Kerajaan Siantar, berkat bantuan si Girsang musuh dari Siantar dapat diatasi. Atas jasanya, Tuan Naga Mariah kemudian menikahkannya dengan puterinya dan menyerahkan tampuk kekuasaan padanya. Adapun penduduk asli tempat itu yaitu marga Sinaga, setelah kekuasaan beralih ke tangan si Girsang, mereka akhirnya banyak yang mengungsi ke Batu Karang dan menjadi marga Peranginangin Bangun. Di tempat itu, Si Girsang kemudian mendirikan kampung Naga Saribu sebagai ibukota Kerajaan Silima Huta dengan menggabungkan lima kampung yaitu Rakutbesi, Dolog Panribuan, Saribu Jandi, Mardingding, dan Nagamariah. Marga ini terbagi lagi menjadi Girsang Jabu Bolon, Girsang Na Godang, Girsang Parhara, Girsang Rumah Parik, dan Girsang Rumah Bolon. Sebagian keturunannya pindah ke tanah Karo menjadi Tarigan Gersang, kampung Sinaman di Kecamatan Tiga Panah merupakan salah satu kampung yang didirikan keturunan Girsang yang pindah ke tanah Karo. Adapun keturunan Purba Silangit ada juga yang menggabungkan diri dengan marga ini yang disebut dengan Girsang Silangit.
Peristiwa yang sama juga dialami salah seorang keturunan marga Cibero yang bergelar Pangultopultop, karena memburu seekor burung dari Tungtung Batu Kecamatan Silima Punggapungga membawa dirinya sampai ke Simalungun dan memasuki wilayah kekuasaan Tuan Simalobong salah satu partuanon dari Kerajaan Panei. Karena kepiawaiannya ia berhasil merebut hati rakyat Simalobong saat terjadi musim paceklik sehingga rakyat pun dengan sukarela memanggilnya raja. Hal ini menimbulkan kemarahan dan kecemburuan Tuan Simalobong, karena ia merasa ialah satu-satunya yang berhak menyandang titel tersebut. Akibatnya Pangultopultop berurusan dengan pihak istana dan berhadapan langsung dengan Tuan Simalobong, peristiwa ini berujung dengan adu sumpah (marbija) antara keduanya yang akhirnya berhasil dimenangkan oleh Pangultopultop. Kepemimpinan kemudian jatuh ke tangannya, di bekas wilayah kekuasaan Tuan Simalobong, ia lalu mendirikan Kerajaan Purba dan mengidentifikasi dirinya dengan sebutan Purba Pakpak. Pengetua adat marga Cibero tersebut dengan tegas mengatakan bahwa Pangultopultop, sang pendiri Kerajaan Purba dan nenek moyang pertama Purba Pakpak juga bermarga Cibero. Nama asli Pangultopultop menurutnya adalah Gorga, ia memiliki seorang saudara yg bernama Buah atau Suksuk Langit, saudaranya inilah yg pindah ke Juhar dan menjadi Tarigan Sibero. Mereka ini merupakan generasi ke 20 dari Raja Ghaib, generasi awal marga Cibero. Kalau merujuk pada pendapat beliau, artinya lebih dahulu si Girsang merantau ke Simalungun dibanding si Parultop, ada selisih 9 generasi antara Girsang dan Parultop, leluhur Purba Pakpak. Di antara keturunan Purba Pakpak ada yang membelah diri dan menyebut marganya dengan Purba Sihala dan mendiami daerah Purba Hinalang, keturunannyalah yang pindah ke tanah Karo menjadi Tarigan Purba atau Tarigan Cikala yang banyak ditemukan di daerah Cingkes dan Tanjung Purba, Kecamatan Dolog Silou.
Daftar Raja Purba:
1. Tuan Pangultop Ultop (1624-1648)
2. Tuan Ranjiman (1648-1669)
3. Tuan Nanggaraja (1670-1692)
4. Tuan Batiran (1692-1717)
5. Tuan Bakkaraja (1718-1738)
6. Tuan Baringin (1738-1769)
7. Tuan Bona Batu (1769-1780)
8. Tuan Raja Ulan (1781-1769)
9. Tuan Atian (1800-1825)
10. Tuan Horma Bulan (1826-1856)
11.Tuan Raondop (1856-1886)
12.Tuan Rahalim (1886-1921)
13. Tuan Karel Tanjung (1921-1931)
14. Tuan Mogang (1933-1947)
Mengenai komunitas marga Purba yang berada di Humbang, secara hukum adat berbeda dengan Purba Simalungun dan juga Purba Karo. Namun mereka kerap mengklaim Purba Simalungun adalah keturunan mereka, namun hal ini sangat bertentangan bila merujuk pada jumlah populasi dan generasi dari kedua marga. Populasi komunitas Purba Simalungun jauh lebih banyak dibanding mereka, demikian juga keberadaan Purba Simalungun sudah lebih dahulu eksis sehingga jumlah generasinya jauh lebih banyak dibanding Purba Humbang. Hal ini diperkuat dari informasi yang diperoleh oleh penulis dari Ketua Bidang Adat Punguan Marga Manurung yang berdomisli di Kota Pematang Siantar melalui rekannya yang mengatakan pada penulis bahwa Tuan Sorba Dijae alias Datu Pejel pernah mengambil istri boru Purba dari Simalungun saat ia berimigrasi dari Pangururan ke Sibisa. Saat masih di Pangururan ia sudah memiliki seorang istri bernama Siboru Anting Sabungan yang melahirkan 2 orang anak yaitu Raja Mardopang dan Raja Mangatur. Dari Raja Mardopang lahir marga Sirait, Sitorus, dan Butarbutar. Sedang dari Raja Mangatur lahir marga Manurung. Sebagaimana diketahui Tuan Sorba Dijae adalah putera dari Tuan Sorimangaraja hasil pernikahannya dengan Siboru Biding Laut yang lebih populer disebut dengan Nai Rasaon. Tuan Sorba Dijulu (Tuan Nabolon) dan Tuan Sorba Dibanua merupakan saudara seayah Tuan Sorba Dijae lain ibu. Ketiganya adalah generasi keempat dari Si Raja Batak. Sementara untuk Purba yang lahir dari Simamora adalah generasi keempat dari Tuan Sorba Dibanua dan generasi ketujuh dari Si Raja Batak. Tuan Sorba Dibanua memiliki delapan orang anak, salah satu diantaranya bernama Raja Sumba, dari Raja Sumba inilah lahir Simamora dan Sihombing kemudian dari Simamora lahir marga Purba yang saat ini banyak ditemui di wilayah Humbang.
Dari uraian ini dapat diketahui bahwa jauh sebelum lahirnya marga Purba di Humbang sudah ada komunitas marga Purba di Simalungun dibuktikan dengan adanya salah seorang isteri Tuan Sorba Dijae berasal dari kelompok Purba Simalungun. Dari kisah ini membuktikan bahwa di tanah Simalungun sejak lama sudah berkembang suatu peradaban besar yang dilakoni oleh para nenek moyang orang Simalungun.
Continue Reading→

Discussion

Archive

Gadgets

Diberdayakan oleh Blogger.

Advertise Here

DAERAH

DAERAH

POLITIK

POLITIK

PERISTIWA

PERISTIWA

KESEHATAN

Health

About Us

PHOTOGRAPHY

PHOTOGRAPHY

SPORTS

SPORTS

Text Widget

© 2013 JABAR NEWS. WP Theme-junkie converted by Bloggertheme9
Blogger templates. Proudly Powered by Blogger.